Minggu, 10 November 2013

Puisi-Puisi Wahyu Saputra

Wahyu Saputra, pemuda Mukomuko, Propinsi Bengkulu ini, tepatnya lahir di Sungai Lintang, 14 September 1987. Setelah mengenyam pendidikan Diploma Satu Informatika Komputer di AIM Jayanusa Padang, kini ia tercatat sebagai Alumni Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Univeritas Negeri Padang. Alhamdulillah, sejak di bangku kuliah beberapa karyanya pernah dimuat di Koran Lokal di Kota Padang, baik puisi, cerpen, cerita anak, dan beberapa artikel lainnya. Puisinya juga pernah dibukukan dalam Antologi Puisi Epitaf Arau yang diakan IADB Padang. Sekarang fokus bekerja dan berkarya, tinggal di Jalan Gelatik 4 Nomor 56 Perumnas Air Tawar, Kota Padang. Kode Pos; 25132. 

Jika berkenan bersapa ria, Handpone. 0821 7414 3808, Fesbuk; Wahyu Amuk, Twitter; @wahyuku_lovers, email; w_s1987@ymail.com / wahyuku87@yahoo.com.
Salam Sastra.


1001

Sepoi-sepoi mimpi ini nyata!
Petik melodi sesuka hati, biar angin berhembus terus berirama
Satu dari seribu lebih bernyawa, bila saja kau mampu berbeda
Tanamkan dalam-dalam, dalam dada.

Bila saja kau mampu jadikan alam itu guru
Belajar! Hentakkan kaki pada bumi, sambut desis angin malam purnama
Nyawa itu roda, tanpa jari-jari, ibarat urat hilang nadi.
Mati!

1001 cara memulai menuai sebelum malam menyemai.
Lukislah mimpi dalam bentangan sejadah
Dalam malam berkabut basah, taburkan rindu pada-Nya
Uraikan titah pada Sang Pemurah.

Seribu dari satu bunga menganga tanpa penyangga
Bisa saja. Yang dihitung bukan pada jumlah, bukan tangkai.
Ya, tentu ini bukan pula cinta semusim sunyi
Tapi, bagaimana ia berdiri.

Hei! Apalagi yang kau tunggu?
1001 penulis rindu, hanya satu berkata cinta
Bebaslah! Tebas belenggumu dalam bayang-bayang semu.
Ingat! Ada 1001 kanvas perlu kau ukir,
begitu juga aku.

Air Tawar, Oktober 2013



SI PIRING TARI

Ah, aku rindu ia. Kemana gerangan ia sembunyi?
Bahkan, sudut bumi, sana-sini sudah kucari,
Mungkin saja ia hilang dalam kerumunan diskotik.
Aku rindu ia kembali.

Jangan bilang aku gila, ini aku peduli pada negeri!
Misteri ini harus diuraikan, tanyakan pada langit.

Kau lupa? Ini risalah tentang warisan bumi.
Ah, edan! Kemana si piring, siapa penari?
Bukankah dulu ia sering dirindu?
Aku lupa!

Kini ia tiada, jika ingin tahu, bisa kau baca, 
Ada sajak pada layar kaca, sekedarnya.
Bila selesai, banyak makna yang perlu aku urai,
Mungkin ada pesan untukmu, percuma juga bila tak nyata.

Si piring tari, aku tahu ada isyarat dalam tubuhmu,
Auramu dulu hidup dalam tangan manusia, dalam ridha-Nya.
Lenggokmu berirama setiap cicin didentingkan,
tapi kini engkau semakin retak, esok mungkin pecah.

Musik bertalu. Membiarkan kau hidup dalam kulit-kulit angin,
Kadang, menangis dalam dendang yang dinyanyikan.

Wahai si piring tari, kemana hendak kau kucari?
Ada aroma rinduku untukmu, rindu generasi. 
Aku ingin kau kembali, 
Sampai nanti.

Air Tawar, Oktober 2013


LUKISAN HUJAN DI BAWAH AWAN

Bermula kisah dari hisapan angin
menghirup letupan-letupan embun di pucuk daun
membawa akidah sarat makna.

Ini, sudah hukum alam dibuat-Nya,
diatur sedemikian rupa, tak sepatah kata pun meletup.
tanpa penyangga di tapal batas,
antara bumi dan langit.

Adegan demi adegan Tuhan lakukan demi makhluk-Nya.
Awan bergumul, ayat demi ayat dibacakan,
tinta, pewarna ditaburkan dalam sejagat.

Angin berhempus dari segala arah,
tanpa kompas tahu tujuan.
Matahari meredup, gemericing sinar mulai sayup.
Langit pekat, bumi gemetar, petir memancar sinar,
mohon sembah tuan bumi.

Manusia cemas. Menanti dengan girangnya bermunajat,
Ibarat cinta dalam peraduan; Ya, Tuhan. Nama-Mu kusebut,
atas syukur yang Kau taburkan. Sujud sembah, 
Engkau Sang Maha Pemurah.

Hikayat hujan membawa rahmat,
seni Tuhan; sebelum turun awan terkubur dalam gelap, 
dihentak topan dengan garang, mengajar kesabaran. 
Kau! Hanya penghuni bumi,
Syukuri! Sebelum mati.

Air Tawar, Oktober 2013


DUPLIKASI 

Lihat! Bila mengukir saja kau terbata-bata, 
Bagaimana karya kriya? Pasti kau lupa lekuk pahatnya.
Alif saja tak terbaca, apa gerangan menyampaikan satu ayat?

Eja A sampai Z, dari Alif hingga Ya.
Lalu baca rangkai demi rangkai adegan kata,
di sana ada makna mewarna dunia.

Dengar! Simak lah dengan seksama,
bukan asal memberi makna, setiap kata itu bahasa.
diamlah sampai sudah, bila jeda pasti ada tanda-tanda,
tanyakan dalam isyarat.

Baca juga! Santap lah ini-itu adegan demi adegan menuju bait. 
Jangan terlewatkan pada satu titik sebelum koma.
Makan minum itu kata, pesanmu karya muda.

Sampaikan! Di setiap sudut bumi ada daun yang berbicara.
Ia melambai, bahwa pesan telah tiba, lewat angin yang mendarma.
Habiskan riwayat dalam sekerat malam,
Katakan, dunia ini karya.

Sudah lah! Seni utuh bila dipertahankan, bukan diper-Tuhan,
Ini warisan zaman, sebut nama-Nya dalam sujud sembahyang.
Seni mengingat Tuhan, nabi menghimbau sejak masa lampau.

Air Tawar, Oktober 2013



INDONESIA DALAM LUKISAN

Bentangan alam terhampar luas, udara jingga berhembus bebas,
Gunung Singgalang agung menjulang, di akarnya sajak terlahirkan,
kicau burung terbentang panjang, menyampaikan tangisan malam,
ini lah perjalanan yang panjang.

Hei, Bung! Dan ini, bukan lagi mimpi menjelang siang
Tak usah kau tanam pohon-pohon tumbang perdamaian,
bila akhirnya menyisakan duri-duri dalam diri.
Usahlah bicara tentang Tuhan, dengan syair-syair kelabu,
dunia saja kau bimbang.

Usahlah menjadi penentang, teori-teorimu tak mengubah dunia nyata.
Bisik burung di atas genteng; “Aku menatap angin menghela rimbun daun,
harap cemas menanti selesai badai, biar ketika pagi mengurai kicau di atasnya.”
Bila sudi, biarkan aku menyanyi sekali lagi.

Ini jelas sebuah selaksa, lukisan rindu dalam peta
Lihat! Ada cemara di batas kota, tak berdaun apa lagi bunga.
Helai demi helai, daunnya rontok dimakan sukma,
Jiwaku takut ini sirna.

Tolong, lukis Indonesia dalam nyata raya-nya. 
singkirkan politik penebas dalam dada
Taburkan bunga dalam sengketa. 

Air Tawar, Oktober 2013


KUJABARKAN ALJABAR

Muridku, jika kau mau
kuberikan apa yang aku punya
sedikit ilmu suluh masa depan mencapai asa
penunjuk jalan juga penerang.

Muridku, jika sanggup mendengar
kuperkenalkan kata indah bertajuk sajadah
kujabarkan aljabar dunia khayal dan nyata
mulai, tuangkan yang kau mau.

Muridku, tak kutuntut balasan
penuh ikhlas kutuntun kalian di jalan Tuhan
sampai akhir pengabdian.

Air Tawar, September 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar