Kamis, 30 Mei 2013

Puisi-Puisi Abdul Manaf

Abdul Manaf, lahir di Inderapura 15 februari 1996, adalah siswa MAN/MAPK Koto Baru Padang Panjang kelas XI jurusan keagamaan. Juga anggota di Sanggar Sastra Rumah Puisi Taufiq Ismail di Aie Angek Cottage yang dikelola oleh bapak Taufiq Ismail dan beberapa staffnya dari kalangan sastrawan. Di samping itu Manaf dan beberapa pelajar sastra di madrasahnya juga mendirikan sebuah forum sastra yang bernama Sanggar Sastra Siswa Indonesia-Cakrawala.

Beberapa kali ia memenangkan kompetisi bidang kesusasteraan dan jurnalistik. Karya-karya Manaf berupa Cerpen, Puisi, dan Artikel pernah mewarnai koran-koran besar lokal yang cakupannya di Sumatera Barat, serta terhimpun di www.kuflet.com dan www.koran-cyber.com. Antologi tunggal perdananya Metamorfosis dirilis awal 2013 lalu, kemudian prosanya pernah bergabung dalam antologi cerpen remaja Sumatera Barat, Hutan Pinus(2011), Perahu Tulis(2012).

Untuk kontak dengan penulis dapat melalui e-mail: manaf96_kobar@yahoo.com, atau juga bisa kontak langsung melalui nomor handphone 082392291600 atau 087791905895



Risalah Kemenangan Batin

Menatap kuntum-kuntum pesisir yang tak
kunjung mekar. Aku tafakur!
Desahan nafas para musafir
yang melewati lorong-lorong kehampaan,
ingatkan diri pada artikulasi kehidupan.
Keras, laksana diseret sepak terjang guruh gelombang.

Itukah deraian angka dan kata di ranah ini?
Hancur takluk dihempas amuk pasang
lalu beku, menyatu di antara butiran pasir.

Seingat daku, matahari masih setia mendampingi
untaikan rangkaian prisma mayapada.
Pun, jika malam menutup hari
angkasa tidak sendiri.
Eksotika pijaran bintang ‘kan leburkan lara.

Duh, banyak nian yang kian tergeser waktu
bahkan pelajaran dahulu hanya tutup buku
bahwa kehidupan tak boleh pincang,
 mestilah seimbang.

Ingatlah, Bung!
Hidup tak cuma mengeja kata-kata
lalu menelan mentah rumus metafisika
tanpa tanda baca.

Dunia ini belum merangkum sejarah
tentang kuntum yang hendak tutup usia,
musafir dehidrasi di sahara,
juga angkara murka gelombang penjajah.

Sebelum sang kala berhenti berdetak.
Ingatlah, Bung!
Bahwa hidup tak boleh pincang,
mestilah seimbang.

Negeri Kabut, Mei 2013


Ikhtisar Zaman

Sudah. Sudah kubaca kisah zaman.
Siapa sangka, sudah tak terjamah drama
yang ia terjemahkan.
Dari muasal Adam-Hawa
Hingga detik dan menit menyeretnya
ke era pancaroba.

Sudah. Sudah kutelaah kisah zaman.
Agung! Sandiwara nafas berikan pancarona
tentang peran tawa, bahagia,
sendu, syahdu
menjadi kompetisi harga diri
biar selamat atas seleksi alam.

Jika bimbang, Tanyalah pada matahari
sebagai saksi hingga titik akhir ini.

Sudah. Sudah kutemukan ikhtisar zaman.
Tentang alur drama peranan dunia
benar-benar menghayati
deretan diksi dan imaji.
Belum kunjung ada sumbangnya nada
mewariskan simfoni setiap lembaran.

“Dahulu memang, sejak sajak dan gerak patah.
Semua bawa bekal ziarah
menjauh dari gejolak transformasi
dari sudut pandang batin
manusia berhati batu!”

Cukuplah,
demikian kuputar cuplikan zaman.

Di kaki Singgalang, Mei 2013


Kidung Kemakmuran

Tanah negeriku tanduslah sudah
beberapa dekade hujan tak kunjung basah.
Anak sekolah, petani, pegawai negeri
tafakur mereka-reka kurus-kakunya diri.

Hidup hampa akan warna
hambar menuju nafas tutup usia
sesal saja yang jadi detak pengingat
riwayat jejak kaki yang tersekat
pada ruang kelas lama, jalan setapak,
hingga area persawahan.

“Diri mereka mati!
Jatuh tumbang sebagai pecundang
yang termakan ramuan keilmuan.” Ada yang kecamkan itu.

Hari ini, para guru dilema.
Penyakit lama masih menyerang anak negeri.
Racun-racun menyerang tubuh
sampai musnah; lalu mati melepuh.

Jangan tunggu lama,
senandungkan kidung kemakmuran
dari gubuk seni yang dulunya tertutup rapat.

Sadarilah!
Tak hanya puisi,
bukan juga lenong Betawi,
dan tarian Serimpi.

Masih banyak bahasa kehidupan
yang belum terselami.
Hingga akhirnya menyulam
benang kusut menjadi sebuah esensi.

Negeri Kabut, Mei 2013


Ceritera Batu Nisan

Kata. Kulihat bumi terluka.
Apa sebab engkau balutkan kapas merah itu?
Sudahlah, Puisi!
Bukan urusanmu mengadili
Toh, ia punya hakim sendiri.

Kayu. Kutatap tembok itu roboh.
Apa sebab gempa semalam tak kau usir pergi?
Sudahlah, Kriya!
Bukan urusanmu menanyai
Toh, ia punya penangkal sendiri.

Kisah. Kupandang gadis itu menangis.
Apa sebab tak kau putar rekaman opera cinta?
Sudahlah, Sandiwara!
Bukan urusanmu menengahi
toh, ia punya cerita sendiri.

Kidung. Kucermati anak itu bermimpi.
Apa sebab tak kau putar melodi asa suci?
Sudahlah, Suara!
Bukan urusanmu menangani
Toh, ia punya titian nada sendiri.

Kipas. Kuraba jemarinya kaku.
Apa sebab engkau tak gerakkan seudati negeri itu?
Sudahlah, Irama!
Bukan urusanmu mengamati
Toh, ia punya lekukan jemari.

Ah, akhiri saja ceritera ini.
Kita hanya batu nisan yang bermimpi,
namun mati di ujung hari.

Di Kaki Singgalang, Mei 2013


Bisik Daun Yang Jatuh Dari Ranting
;Filosofi Seni

Semua bermula dari akar
sebagai akidah batin kala menjalar
mencari mata air suci yang berpijar.

Lalu titipkan pada batang sebutir kisah
penyanggah langkah kala lelah
menangkap detak hidup gelisah.

Lambat sudah, ranting membuka hayat
tersemat goyah di puing-puing pikat
selayang angin pun melahirkan daun
kian menahun, kian rimbun.

Belum lama rupanya matahari membuka katup
daun periang harus turun meredup
dan menanti seleksi mengakhiri sayup.

Hingga datang, daun-daun berguguran.
Yang tinggal hanya ranting tanpa dahan.
Dalam mangkat, berkibar amanat.
“Nikmati harimu tanpa kami,
tiada hijaumu tak pernah disesali.
Sebab kami hanya rangkaian puisi,
selamat jalan.”

Semua bisu, hanya ungkap tafakur
lalu mundur meraba bait-bait lebur
bahwa daun hanya ingin berperan
laksana pewarna dalam lukisan.

Negeri Kabut, April 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar