Selasa, 29 Oktober 2013

Puisi-Puisi Adetia Anetama

Nama saya Adetia Anetama, saya lahir tanggal 7 desember 1997. Sekarang saya sedang duduk di bangku kelas XI IA 4 SMA N 1 Sumatera Barat di Padang Panjng. Karena saya berasrama, karya saya ini dikirim dan dibuat dengan penuh perjuangan, mulai dari tidak punya HP (tidak boleh bawa HP ke asrama), belum pernah mentransfer uang sebelumnya , dan setidaknya saya mendapatkan ilmu baru dengan adanya lomba ini untuk bias berpartisipasi  dalam sebuah lomba. Motto hidup saya berubah setelah mengikuti lomba ini “ mencari kesempatan, bukan menunggunya datang sendiri kepada kita”. no HP (asrama): 081267985840 Dan email : adetia.netama@yahoo.com FB : tiyya nethama 


HIDUP SANG BUMI KEMUSTAHILAN

Pelita itu terbit dari langit keajaiban
Meronakan wajah bumi  kemustahilan nan  pucat
Airmatanya membasahi pipi kesakitan  nan tandus
Membasahi bibir  kehidupan nan kering
Jerami-jerami perjuangan itu kini basah
Basah membusuk di tengah sawah penderitaan
Tenggelam, terbenam, terinjak dalam lumpur kenistaan
Hancur! Hancur! Ditelan kebiadaban kaki kekerasan
Bumi kemustahilan itu menangis
Air matanya membasahi jerami perjuangan nan membusuk
Membangunkan bunga-bunga pahlawan nan tertidur
Membuahi bunga-bunga kerja keras nan mandul
Melenturkan robot-robot kaku itu menjadi manusia-manusia tuhan
Jerami-jerami perjuangan itu
Bunga-bunga pahlawan itu
Manusia-manusia tuhan itu
Kini menari, melukis kancah drama kehidupan
Di sebuah kanvas kemerdekaan
Kemerdekaan sang penjarah kemustahilan

Puisi-Puisi A.Nawawi bin Mu'min bin Salami

A.Nawawi bin Mu'min bin Salami . . . Adalah manusia ke 5 dari 6 bersaudara beribu Ibu Ropinih binti H.Sulaiman. Lahir di Cirebon tepat pada tanggal kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), 17 Agustus 1992. 6 Tahun belajar di SDN 1 Guwa lor-Kaliwedi-Cirebon.  Melanjutkan belajarnya ke tanah penuh berkah Babakan-Ciwaringin-Cirebon,Pondok Pesantren Assalafie(2005-Sampai sekarang). Selain aktif sebagai 'pembelajar' di Madrasah Alhikamussalafiyah, gampang aktif di Komunitas Seniman Santri, Majalah Budaya MB2(Melek Bengi-bengi) dan LKP(Lembaga Kreativitas Pesantren). Facebook   A.Nawaawiesabit@facebook.com Nomor Handpone  089 657 987 501


AKU DAN BATU

Dulu, ketika ibu menanyakan apa cita-citaku
Aku sebagai laki-laki ku jawab ingin menjadi pesepak bola
Yang bisa membawa tanah kelahiran tercium harum
Susah di ejek-ejek dan gampang di saudarai tanpa pandang bulu
Kini, aku sedari dulu menganggap batu jadi senjata
Ketika bocah sepermainan melukai ku
Aku dan batu tak jauh sama, sama-sama kuat sama-sama bisa rapuh
Aku dan batu bercerita;
Keraskanlah hatimu ketika ada racun masuk ke dalam dada
Racun peradaban yang tak beradab
Keraskanlah isi kepalamu saat darah nadi lagi berdetak
Lawan kedzoliman antara manusia sesama manusia
Perangilah mereka dengan kesederhanaan berfikir bertindak namun susah di tebak
Bisa-bisa mereka kewalahan minta ampun merunduk-runduk
Tetapi, ah, apa ceritaku;
Sayangilah saudara-saudaramu
Jagalah mereka dari kutukan sampah-sampah dunia
Rangkullah persahabatanmu dengan Kasih Nya
Karena hidup menang tak akan menang selama-lamanya

2013

Kamis, 13 Juni 2013

Penerimaan Naskah Lomba Cipta Puisi Nasional Kuflet Terakhir 30 Oktober 2013

KOMUNITAS SENI KUFLET PADANGPANJANG, SUMATERA BARAT

Sehubungan dengan kuato Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang belum mencukupi Kreteria untuk penerbitan antologi puisi. Sehingga Panitia penyelenggara Lomba Cipta Puisi Nasional Kuflet beserta Kurator dan Pengurus Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, berdasarkan rapat pada hari Rabu, 12 Juni 2013. Memutuskan:
1. Penerimaan Naskah Puisi akan diperpanjang sampai dengan 30 Oktober 2013
2. Penilaina oleh dewan juri dilaksanakan pada 5 S.d. 25 November 2013
3. Pengumuman Pemanang akan diumumkan pada 30 November 2013
4. Peraturan yang lain tidak ada perubahan 

Alasan pengunduran
1. Kuato Puisi untuk penilaian pemilihan 10 puisi terbaik setiap kategori belum mencukupi
2. Kuato untuk penerbitan antologi puisi dari puisi peserta belum cukup

Dalam rangka pengabdian Komunitas Seni Kuflet kepada masyarakat umun khususnya anak bangsa. Komunitas Seni Kuflet laksanakan Lomba Cipta Puisi Nasional kategori siswa, mahasiswa dan umum yang bertemakan  “Seni untuk Masyarakat Membentuk Citra Membangun Dunia Pendidikan”. Tujuan acara tersebut adalah untuk mencerdasakan generasi bangsa dan membangun dunia pendidikan melalui kesenian. Sebelumnya acara tersebut direncanakan pada 11 Mei 2013, namun karena ada beberapa masalah. Sehingga pengiriman karya terakhir diundur ke tanggal 10 Juni 2013. Kemudian pada tanggal 12 Juni 2013 berdasarkan keputusan di atas bahwa Kuato Puisi untuk penilain pemilihan 10 terbaik setiap kategori belum memenuhi dan kuato untuk penerbitan belum mencukupi sehingga Penerimaan Naskah Puisi diundur sampai 30 Oktober 2013 dan pengumuman tanggal 30 November 2013. Setiap pemenang akan diumumkan melalui media cetak dan media Online serta nomor HP yang diberikan peserta kepada panitia.

SYARAT&KETENTUANLOMBA
1. Peserta Warga Negara Indonesia (WNI) baik yang berdomisili di Indonesia maupun diluar Negara Indonesia.
2. Memiliki Identitas diri berupa;
a. Kategori mahasiswa dan umum memiliki KTP/SIM/Kartu Mahasiswa//Paspor, dll. (pilih salah satu)
b. Kategori siswa (SLTP/SLTA) memilki Kartu Pelajar/ Surat keterangan sekolah (Pilih salah satu)
3. Tema Lomba Cipta Puisi Nasional “Seni untuk Masyarakat Membentuk Citra Membangun Dunia Pendidikan”  
4. Peserta adalah perorangan (individu).
5. Setiap peserta wajib mengirim naskah sebanyak 5 judul  karya.
6. Karya yang diikutsertakan harus asli bukan terjemahan, danpenulis bertanggung jawab penuh terhadap hasil karya  tersebut. Apabila dikemudian hari ditemukan adanya plagiasi (plagiat), maka apabila peserta tersebut menjadi juara langsung didiskualifikasi.
7. Karya belum pernah dipublikasikan di media manapun, baik Media cetak maupun media Online
8. Panitia berhak menyeleksi semua tulisan yang masuk dan berhak tidak mempublikasikan tulisan yang mengandung unsur SARA, RAS, Pornografi, atau unsur lain yang dinilai kurang pantas dan kurang sesuai dengan etika serta melanggar  segala perundang-undangan yang berlaku.
9. Pengumuman pemenang akan diumumkan pada 30 November 2013. Kemudian akan diumumkan lewat jurnal seni online kuflet.com dan juga media lainnya baik nasional maupun daeah.
10. Peserta disarankan bergabung dengan group( jurnal seni online kuflet.com/ http://www.facebook.com/groups/169432709818345/)  untuk mengetahui informasi lebih lanjut
11. Semua karya peserta akan akan ditayangkan di blog http://infolombaciptapuisikuflet.blogspot.com
12. Lomba ini tidak boleh diikuti oleh seluruh anggota dan alumni Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang.

FORMAT PENULISAN
1. Panjang naskah maksimal 2 halaman untuk satu puisi (kertas A4, font Times New Roman, ukuran font 12, spaci 1.5, batas margin; Top 4 cm, Left 4 cm, Right 3 cm, bottom 3 cm.
2. Lampirkan biodata (identitas diri) berbentuk narasi/paragraf dalam file yang berbeda (lengkapi dengan Nomor Telp dan Email aktif). Lampirkan Foto dan Kartu Identitas yang diScan (KTS/KTM/KTP/dll)
3. Nama file puisi adalah (Puisi-Kategori lomba - Nama Penulis-kota),contoh; PUISI - SISWA – BUDI-PADANG.
4. Kirimkan file puisi beserta lampiran biodata via email ke: lcpnkuflet@gmail.com dengan format pengiriman; Judul  (Subject): Puisi –Kategori-Nama Lengkap Penulis-kota. Contoh:  PUISI - SISWA – BUDI-PADANG.


KRITERIA PENILAIAN
1. Kesesuaian Tema dengan  judul dan isi puisi
2. Isi karya
3. Sistematika penulisan; pemilihan diksi, ejaan, gaya bahasa, kiasan.
4. Penjurian dilakukan 2 tahap, tahap seleksi yang akan dipilih 13  karya kategori siswa dan 13 puisi terbaik kategori mahasiswa dan umum, kemudian penjurian final dalam menentukan 3 terbaik siswa dan 3 terbaik mahasiswa dan umum.


HADIAH PEMENANG
           
Kategori Mahasiswa dan Umum
1. Juara I : Rp. 700.000 + 5 Buku  + Piagam penghargaan.
2. Juara II : Rp. 500.000 + 3 Buku + Piagam penghargaan.
3. Juara III : Rp. 300.000 + 2 Buku + Piagam penghargaan.
4. 10 karya terbaik akan dibukukan


Kategori Siswa
1. Juara I : Rp. 500.000 + 5 Buku  + Piagam penghargaan.
2. Juara II : Rp. 350.000 + 3 Buku + Piagam penghargaan.
3. Juara III : Rp. 250.000 + 2 Buku + Piagam penghargaan.
4. 10 karya terbaik akan dibukukan


MEKANISME PENDAFTARAN

1)      Peserta dikenakan biaya registrasi Rp. 20.000,-. Dengan melakukan registrasi via transfer ke Bank BRI, Nomor Rekening 0037-01-074639-50-9 a.n. Ansar Salihin. BRI Cabang Banda Aceh.
2)      Setelah pengiriman uang pendaftaran konfirmasi ke no 085272296756 dengan format LOMBA CIPTA PUISI. KATEGORI. NAMA. NOMOR REKENING. ALAMAT contoh LOMBA CIPTA PUISI. SISWA.BUDI. 0037. 01 XX. XXXX. PADANG.
3)      Naskah puisi, lampiran biodata, foto, Kartu Identitas yang telah dilengkapi, serta struk ATM/Tunai sebagai bukti registrasi dikirim paling lambat tanggal30 Oktober 2013 Jam 23.59 WIB.
4)      Pengumuman pemenang tanggal 30 November 2013. 
 5)      Pertanyaan lebih lanjut bisa melalui SMS di 085272296756/ 08982693455 (Ansar Salihin ) atau via Email di lcpnkuflet@gmail.com, kuflet@gmail.com dan di Web kuflet.com


DEWAN JURI
1. Mustafa Ismail (Sastrawan Nasional/Redaktur Budaya Koran Tempo Jakarta)
2. Muhammad Subhan (Jurnalis, Novelis dan Ketua Umum Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia)
3. Win Gemade (Penyair Aceh Tengah)

Puisi-Puisi Eddie MNS-Soemanto

BIODATA: Eddie MNS Soemanto lahir di Padang, pada 4 Mei 1968. Saat ini, sejak tahun 1994,  bekerja di sebuah perusahaan otomotif AUTO 2000 di Padang, yang mana beberapa tahun sempat pindah di Jakarta bekerja di perusahaan yang sama. Puisi-puisi tergabung dalam antologi Rantak 8 (Teraju Padang, 1991), Rumpun (Taman Budaya Sumbar, 1992), Kebangkitan Nusantara II (Malang, 1996), Slonding (Selakunda Bali, 1998), Puisi 1999 Sumatera Barat (Dewan Kesenian Sumbar, 1999), Narasi 34 Jam (KSI, 2001). Dialog Taneyan Lanjang (Bunga Rampai Majlis Sastra Madura, 2013). Kumpulan Puisi tunggal bertajuk Konfigurasi Angin (Citra Budaya Indonesia, 1997). Selain menyenangi puisi, juga menyukai cerpen dan hal-hal berbau plesetan. . Hape 0812 670 84384, pin 225783BA. Email: ed.soemanto@ymail.com



MALAM TAHUN BARU

bulan tumbuh dari tempat yang sama
senyum bintang masih seperti kemarin
tapi pengharapan tetap harus berbeda
membangun impian dari rongsokan
kata-kata, kalimat-kalimat nujum
serta kenangan yang saling berhimpitan
serupa paus yang terkurung beribu tahun
menebak-nebak  penjuru mata angin

kotbahmu yang panjang tentang dunia
kadang menyesatkan bayi-bayi domba
yang tak sengaja lahir dari tumpahan cendawan
dan luapan cahaya: kita masih mematut-matut diri di keretakan cermin waktu
keniscayaan serupa keberuntungan tumplek dari surga, katamu. berulang-ulang dituliskan sebagai harapan dalam kitab-kitab


Padang, 31.12.2012



-------------------------------------


TELAH  AKU SIHIR


tak kusangka telah kusihir rupamu
aku menduga akan meleburkan kisi-kisi malam
jalan setapak menuju rumahmu: kota disesaki gambar-gambar palsu. poster-poster palsu
dan pasar ditumpahi kaki lima. kalimat-kalimat obral, bahasa-bahasa iklan di trotoar: dijaja bersama kebohongan

tak kusangka telah kusihir segala hasratmu
rupa-rupa . dan juga iklim pancaroba yang hitam
aku ternyata tersesat oleh warna laut
yang kau bentangkan dalam mimpiku

tak kusangka begitu lekas usia menjadi layu
bunga-bunga mencatatkannya dalam pot tanah yang lupa kau sirami
di situkah aku menuju: rumah tak berpintu


Padang, 10.1.2013


------------------------------

KUBACA RIWAYAT


kubaca riwayat kontrak para burung
yang menghuni cakrawala: kutemu kau menggotong merek-merek dagang
etalase yang kau pindahkan dalam hati
tak kah kau sandingkan aku di sana?

kubaca silsilah hutan-hutan yang kausuburkan di ranjang
bagai batu, semedi berkepanjangan dalam luasnya haribaan
tak kau sebut sebagai keletihan?

lalu semuanya memudar. kita masih. mencari-cari ibu kandung kebenaran
sambil memukul-mukul lonceng
kematian di setiap magrib


Padang, 15.1.2013


------------------------------------

KUGALI MIMPI


kugali-gali sendiri mimpi
tak kunjung kubaca riwayat pohon
yang kau tebang. hanya bahasa isyarat gergaji dan cinshaw yang kutemui
anak-anakku menggambar pohon tumbang itu
pada dinding kamar
tak ada burung di situ. juga  marmut hanya ilalang kering. tumpahan serbuk-serbuk kayu
lelehan matahari yang memerah
juga mimpi nyaris  semaput
kugali-gali sendiri. bangkai pohon
ceceran daun-daun tua dan kelabu  menjadi timbunan sampah dalam kepalamu

juga tak ada akar yang menjuntai
yang menyambungkan kegelisahan kita dari menit ke menit
pada matamu tinggal doa-doa lusuh dan mengkerut
tapi terus kau ucap dalam mulut yang mendidih
lalu berharap musim-musim menumbuhkan gerimis dalam mimpi itu


Padang, 31.1.2013


-------------------------------------

IBU KESEDERHANAAN

cinta yang membusuk
akar pada pohon. bunyi pada kendang
adalah kesetiaan. zatmu yang bertaburan dari semesta:  tanpa batas
adalah ibu untuk kesederhanaan
juga kesengsaraan daun-daun yang dirontokkan angin ke pojok halaman

aku menangkap suara hujan dari matamu
berwarna abu-abu. dan aku menuju jalan panjang

Rabu, 12 Juni 2013

Puisi-Puisi Rika Mayangsari

Rika Mayangsari, Nama Panggilan  Kaa/ Ika, Tempat Tanggal Lahi di  Jakarta, 15 Desember 1991, Alamat Domisili di Jalan Kramat IV Rt.009/010 No.17 Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan  Cipayung, Jakarta Timur 13810.Alamat Tinggal di Perumnas Waiheru Blok III, Ambon-Maluku,  Mahasiswa Jurusan Akuntansi dan Staf Administrasi Lembaga di Maluku, Mendengarkan musik (Easy listening  music, Japanesse and Pop Rock), Baca  buku (Simple book), dan Menjelajah tempat baru (Learn and Trying something  new). Ketika banyak bintang yang mulai menenggelamkan sinarnya, sisihkan sedikit  sinarmu untuk membangunkan mereka dari keraguan bahwa “keajaiban itu  masih ada” dan bersiaplah untuk sesuatu yang tidak terduga Email Rhilup_naruto@yahoo.com.  Rika.amu15@gmail.com Telp 021-8488140/ 082113241175


UNTUK IBU

Penat lelahku bersandar di pundak lembutmu
Tangan halusmu mengusap peluh erak di keningku
Mengadu kesal berkicau masalah yang datang padaku
Terenyah tenang saat ku tangkap sorot matamu

Perlahan butir air mata meruak ke wajahku yang merunduk pilu
Teringat kenangan saat ku bermanja manis denganmu
Mengingat Khilaf dan kenakalanku saat remaja lalu
Maafkan aku ibu yang terkadang dulu tak menghiraukan dirimu

Ibu, ingin ku tuangkan kepedihanku ini
Ingin ku peluk erat dirimu saat ini
Saat terendahku tanpa dirimu kini
Saat pendewasaanku menghadapi masalah hari ini

Ibu, saat ku memilih jalan ini
Apakah engkau benar rela melepasku?
Seorang perempuan kecil yang hijrah untuk negeri
Membawa bekal budaya dengan ajaran dan nasihat darimu

Melangkah lambat saat ku teringat padamu
Mengamal tauladanmu saat mengajarku menjadi perempuan berilmu
Memasak, bersolek, hingga mengelola kasih sayang terhadap sesamaku
Menjadi bekalku saat mantap melangkah untuk keluar menjadi pribadi baru

Kini, ku menopang hidupku sendiri tanpamu
Mengusap air mata di tiap doa tertinggiku untukmu Ibu
Tergegap ku berkata dalam hati, Ibu aku sangat sayang padamu
Semoga Tuhan menyampaikan rinduku ini untukmu

Terkadang ilusimu membuatku berlinang air mata
Saat mengingat indahnya saat bersamamu dan keluarga
Aku tersadar, mengapa dulu aku sering mengacuhkan perintah bijakmu?
Namun inilah resiko hidup baruku dari keputusan yang sudah ku paku

Setiap sujud ku berdoa untuk kesehatanmu sekeluarga
Berharap engkau selalu tersenyum bahagia disana
Ibu, walau kita jauh terpisah kini
Kasih sayang dan doa darimu selalu membuatku kuat hingga hari ini


SEDERHANANYA HIDUP

Bangun untuk memulai harapan
Melihat untuk belajar
Berjalan untuk berjuang
Tertidur untuk bermimpi cita

Dalam sebuah kata “keterbatasan”
Elegi menyambut pahit sebuah “kehidupan”
Menyapa dengan “kesederhanaan”
Merangkul dalam sebuah “tantangan”

Sendiri terlihat ragu
Bersama kita kan maju
Mengubah takdir masa lalu
Dalam dendang kepada Sang Agung

Terkadang rapuh menyudut
Terkadang semu bertamu
Dalam balutan kehidupanku
Asa kupacu menderu

Tak peduli raga
Tak peduli harga
Citaku pada dunia
Akan kujadikan nyata

Walau bermodal secarik kertas putih
Berteteskan tinta hitam pekat tak bernilai
Berpeluhkan puluhan usaha tak ternilai
Hargaku padanya sudah mati

Kutempuhnya dalam setiap hari
Kuperhatikannya dalam setiap menit
Kepelajarinya dalam setiap hela
Agar kumengerti arti hidup yang sederhana.


RINDU RINJANI

Menggali  alam dalam subur alam raya
Menapak Senja di Pulau Seribu Masjid
Memesona negeri sebagai Lumbung Pangan Nasional
Memijak bumi tertatih, Rinjani

Bergeming dalam bisu
Berkumandang dalam mimpi baru
Asaku kurajut dalam  haru
Kugapai esokku yang kelabu dengan biru menderu

Cahaya elok membias di beningnya laut
Terpantul gambaran diri dengan sejuta rupa dalam tanya..
Haruskah ku tinggalkan dusun kecilku yang menawan
Untuk menapaki rimba baru yang menantang,

Terseok ku rajut mimpi dengan benang asa
Ragu mengganggu, erak siap bergelayut dalam bahu  ini
Tertunduk memejam ku bersimpuh pada sang Pencipta
Mengharap benang asa tak memutus kala ku merajut mimpi

Sabit telah purnama, dan semi telah menanggalkan gugur
Melodi kehidupan menyambut anak sang Pribumi yang telah kembali dari rimba
Menawan sekitar bak permata cendekia yang mulia
Rinjani, aku kembali dengan harap baru membawa negeriku membahana dalam dunia

Dua perlima dekade sudah hijrah demi cita
Membawa Gaharu dalam lintas tersohor dunia
Dalam kado kecil nan indah dari Ibu Pertiwi nan Agung
Kini ku pulang dengan jutaan ilmu yang kupersembahkan utuh untukmu,
Rinjani.


PEJUANG KLASIK 

Sulung dari panca raga
Mengusap dahaga dalam dingin malam
Belajar dalam remang pinggir kota
Bersabar dalam hidup rela penuh suka cita

Malam kau belajar, siang kau bekerja
Merelakan remajamu untuk sebuah cita
Untuk mereka yang kau cinta
Dengan atau tanpa restu orang tua

Subuh masih terlalu dini untuk kau tapaki
Jalanan masih terlalu sepi untuk kau lewati
Namun kaki dan tanganmu terus bekerja dalam pagi yang sunyi
Menyapa dedaunan pagi untuk kau bersihi

Sabtu kau belajar dan membanting tulang di sawah
Minggu kau berladang juga membantu ayah membajak tanah
Senin hingga jumat kau menyapu jalanan dengan setia
Hingga malam menjemput kau masih juga mencari ilmu mulia

Peluh usahamu kau relakan untuk saudaramu
Hasil jerih payahmu kau gunakan untuk pendidikan adik-adikmu
Walau kini telah putih rambutmu
Walau kini semakin rapuh tulangmu

Aku yang jauh darimu
Mengais ilmu di negeri nan jauh
Ingin meneruskan usahamu yang dulu
Walau rindu terlalu menusuk di kalbu, Ayahku...  


BERTAHAN DALAM ERAK

Perlahan, dalam diam dia nyata
Dalam khusyuk bergeming dia ada
Terus berjalan menjaring sebagian nafasnya
Mengontaminasi sebagian harapan kecilnya

Sebuah anugerah tentang rasa
Sebuah ingatan tentang sebuah ujian
Menyudut dalam diri
Bersatu untuk melumpuhkan jati diri

Abstrak tak terlihat
Bersarang dengan jala-jala koma
Tertanda jingga telah kelabu
Dan rajut mimpi terhenti sejenak ragu

Tersadar waktu tak dapat berubah
Tertunduk pasrah memohon doa
Walau tertatih sendiri dalam dingin kota
Dan harapan telah tersamar realita

Tiba sudah kelabu menjadi kelam
Kardus jalan tak bertuan
Gadis kecil telah terbungkus kafan
Meninggalkan dunia dengan cita tak tergapaikan

Secarik kertas kutulis memori klasik
Tentang catatan kehidupan loper cilik yang teracik
Gadis kecil dengan senyum tertahan lesu
Bertahan dalam erak, melawan dengan ragu
Tersisa cita, duka dan alpa tentang sebuah keluarga

Puisi-Puisi Renny Puteri Utami

Renny Puteri Utami, lahir di kota Palembang, 26 Juni 1995. Sulung dari 3 bersaudara ini memiliki hobi menulis dan membaca. Saat ini bertempat tinggal di Jl. K.H. Balkhi Lr. Banten 6 no.208A RT. 60 RW 001 Palembang. Ketika masa SMA, aktif mengikuti kegiatan OSIS dan ROHIS serta kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya, dan sekarang baru saja ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. 
Juara terbaik pertama dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November, Dewan Harian Daerah Badan Pembudayaan Kejuangan 45 (DHD BPK 45) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) lomba karya tulis puisi se-Sumsel, Rabu (7/11/2012) di Gedoeng Djoeang ’45 Jakabaring – Palembang. Selain itu juga menjadi juara terbaik 3 dari seluruh Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand dalam lomba PSP (Pasar Seni Pelajar) 5 SMAN 4 Batam pada tanggal 26 Januari 2013. Hal tersebut belum membuatnya menjadi cepat puas, pengalamannya masih seumur jagung masih banyak yang belum diraihnya. 
Untuk menyambung silaturahmi, silahkan kontak melalui no. HP 08988732527, atau via email rennyputeriutami@ymail.com


PEMUKIMAN SENI MENDARAH DAGING

Ujung angin selatan merobek pelabuhan menguning,
Ditikam oleh debu dan berlari kesana kemari
Rindu bergumpal di genggam tiada tanya agungnya serupa laksana
Seruni rima telah merayu serta-merta meratakan papan ratapan
Pincangnya hujan karena tiada petir yang melambai 
Jemari pun rela tak mengharu biru lalu menepis di pelataran gang-gang suara.
Lirih apa tersedu sedan menyatakan rindu
Ini teka-teki yang mudah di tebak.
Istirahat sejenak mendengar kabar kabur
Sediakala manusia bercokol di metafora persembahan tempo dulu

Pemukiman seni telah berdarah jadi
Indonesia purnama di belahan katulistiwa
Seperti Ebiet kah dunia, tampil menyanyi biru?
Seperti Wali Songo seni mendidik?
Sejurai masa menyisakan peradaban klasik
Sejurai cerita menyisakan amanat 
Sekumpulan manusia menari bertatap berpautan
Nada  sama timbullah sentuhan melodi paradigma
Lapisan langit tertawa alunan suling Sunda merambat lambat
Lembu di pinggir sawah berdendang 
Gundah gulana terusir, menyanyilah  Asep
Saring estetika mustika
Menyanyilah Asep
Ku temukan sosok manis menikmati lagu dunia
Tersenyum semangat di atas melodi menyingsing cita-cita
Pemukiman seni mendarah daging
Dalam nadi, saraf hati, serat-serat pikiran 
Menempelkan virus membelah diploid menjai ribuan


HINGGA AROMA PRIMER BERANAK SEKUNDER

Terhujam dan dihantam oleh silau sastrawi
Rotasi jagat raya kini gusar penurunan ilham yang hakiki
Luhurnya artsitik sebuah ketulusan
Bergaya medium atau hirarki bahkan bisa jadi penumpas batiniah
Di kanan serta di kirinya, tersinggung tersedu tanah air
Cukup kinestik latar belakang Indonesia lalu pembebasan makna
W.R. Soepratman, Indonesia Raya
Belenggu menjadi harfiah seni mengalir alur
Digubah apik dalam perspektif  nasionalisme dalam lembah Pendidikan

Ruas warna batas waktu
Pra-aksara, neolithikum, megalithikum membalut sejarah
Awalmu dari prasasti, relief, serta candi dan masjid Allah
Menelan semua abstraksi, hingga kontemporer 
Perbincangan pelangi ini bukan sekadar primer
Merah, kuning, biru
Tapi dimana setiap bus sekolah menghantar kusuma bangsa bernafas seni
Yakini peluhnya pun bergolak 
Hingga aroma primer beranak sekunder
Sebab sentimentil terhadap luwesnya perubahan 
  

KREASI TIDAK DIPUNGUT BIAYA

Ada seonggok harapan yang belum dimengerti
Suatu malam yang diresapi perubahan suasana 
Kelaparan akan perbandingan manusia insan rumah
Pura-pura pengemis mencari belas 
Dikala mengais semua titah di dalam genggaman
Semua itu kebutuhan dan membebaniku
Tak usap khayal segala batin seperti bunga haus tak minum seribu tahun
Tak usap khayal haruslah berpegangan ilmu agar tak terpeleset terkena hujan
Kadang pula berlebih dosis dan gentayangan
Dunia ialah esensial produksi kemanusiaan
Pembagi waktu adalah bijaksana merampingkan kesulitan
Status patriotik mengancam ortodok kebodohan

Seni sarana eksotik namun tidak menentang pendidikan
Tiada pembutaan dalam seni yang jernih
Mengasah lembut setiap ide  menjadi kebudayaan yang kompleks
Sentuhlah mereka yang dehidrasi di padang pasir keresahan
Siapapun dia yang kalut dalam dunia hati dan pikiran
Petani, buruh, anak jalanan meratap 
Pencarian nafkah kalbu lewat seni dapat meringankan 
Seni sarana eksotik namun tidak menentang Pendidikan
Tiada pembutaan dalam seni yang jernih
Jangan takut seperti maling yang akan di hakimi
Barometer fantasi seni melambung ke langit
Rakyat kecil butuh seni dan pendidikan
Jangan takkut seperti maling yang akan di hakimi
Bumbung bersedia menjadi pengungkap sistem hati

Tenanglah kreasi tidak di pungut biaya
Tiada satupun penghalang bagi ikrar kesenian
Tiada satupun penghambat bagi pemegang amanat pengetahuan
Tiada penipuan dalam hasrat meninggikan kebudayaan
Keberanianmu berkreasi adalah pahlawan sejati
Tenanglah kreasi tidak di pungut biaya



DEMI PROTES MELAWAN DUNIA

Kucium kaki tua berbau basi
Selangkah menyeret tetesan peristiwa yang parah
Pikulnya memundak dari jemari terkungkung kejam empedu awan
Sarat suatu nisan bukan dari beliau 
Tasnya memelihara kelengkungan diatas pelupuk
Terhadap anak panah yang berbisik aku sudah lelah
Terhadap batu granit terkikis hujan
Dia injakkan kaki yang terasa kesemutan, linu atau asam urat
Sambil tengkoraknya yang terbentuk, binar wajah semakin kusut
Setiap halte yang menunggu seruan rayuan kernet pada penumpang
Setiap gerbong-gerbong tua dan relnya pun turut berduka 
Di persimpangan stasiun bertayangkan lembayung senja
Ada yang tak berani bersuara dan menyanyi sebaliknya
Sebuah masa gitar melodi yang kenyang dinikmati
Namun sebuah jiwa berpuasa dari dunia kecil penuh antah berantah
Penilaian sang tua terhadap seni hingga turun dari pengasingan
Sebenarnya sang tua menyatukan listrik padat makna
Dalam persembunyian otaknya berwarna memancar 
Ingin sekolah sejak penjajahan, dayanya sampai senja pun tak mencicipinya
Sebuah masa gitar melodi kenyang dinikmati, demi protes melawan dunia


BERUSAP EMBUN PENDIDIKAN

Ada panggilan masuk membentur
Sekumpulan definisi untuk perbincangan tanpa uraian 
Ada pula struktur-struktur  gabah untuk menghadirkan fungsi
Di pojok pola poligon pontang-panting bergeming
Ku kira ada sumber dalam hal batiniah
Beberapa sayup mengatakan takkan datang
Beberapa kesendirian bercakap takkan pulang
Konsep semantik berhadiah selaput suara yang dilatari suku-suku seni
Duduk di tepi ladang ini vokal menjadi terkabar samar 
Topik yang menyerahkan adaptasi berlingkup proses
Serta bersuka ria penonjolan artikulasi sikap
Ada kontras, antonim, perseberangan, ada ciri mayor atau minor
Tak masalah seperti dihembus langit-langit waktu

Ada hak dan kewajiban seni membangkitkan Pendidikan
Secarik potret Saleh Syarif Bustaman
Kesempatan romantisnya terikat, Antara Hidup dan Mati
Karena tersirat hiruk pikuk desah angin
Seni mengandung magnet kehidupan
Tatkala dapat menarik tariklah sekuat tenaga
Kulturasi seni melepaskan dahaga 
Mendapat angin segar dan bertemulah
Periode Indonesia Jelita, PERSAGI, hingga periode Sanggar
Memperhatikan anak bangsa 
Menjadi catatan penting demi pendidikan

Pernah beristirahat ditengah pergulatan seni
Tapi kami tidak ingin batas layar
Bukan resep atau komposisi yang kebarat-baratan
Tapi rasa senang berenang di samudera seni Indonesia
Ketika kecil ku kenal Reog Ponorogo, serta wayang si Cepot
Ketika dewasa ku nikmati usapan embun Pendidikan nusantara
Bukan resep atau komposisi kebarat-baratan
Tapi rasa senang berenang di samudera seni Indonesia

Sendi-sendi seni bongkar pasang dalam morfolgi wajah Indonesia
Terkadang tak perlu susunan tingkat tapi ambigu tak juga dekap
Jadi inilah seni kekuatan ekspresi melibatkan Pendidikan
Menghadirkan retoris lalu syahdunya sulung
Berusap embun Pendidikan


Puisi-Puisi Nina Kirana

Nama lengkapku Nina Kirana. Sering menggunakan nama pena Kirana atau N. Kirana. Dilahirkan di Surabaya dan dibesarkan di Bandung. Lulus dari Universitas Padjadjaran jurusan Bahasa Jepang. Sangat menyukai seni dan kesufian, terutama seni bahasa, musik dan filsafat. Belajar dan terus belajar adalah sebuah keharusan bagiku. Beberapa karya pernah dimuat di majalah sastra dan antologi bersama.
Memiliki quote:
“ ~ menulis bagiku merupakan Tarian Ruh dan Jiwa.. tiap liuk lekuk gerakan jari-jemari ini memahat Huruf demi Huruf dan Bait-bait Nada dari Lirih Jiwa.. maka, mainkanlah Musikmu dan Menarilah ..!! ~ N. Kirana” 
Memiliki blog: www.lukisanmalam.blogspot.com dan www.lukisanmalamku.blogspot.com 
Dapat dijumpai di facebook: www.facebook.com/AkuDanLukisanMalam
Email: qrana.qrana@gmail.com
Nomer Hp: 081809882010


ANAKKU (1)

Anakku,

Engkau pulang dengan membawa siang yang terserak di antara kemeriyap butir-butir keringat pada terjal keningmu
Dan tas yang menggelayut lelah di punggungmu nampak melambai-lambai pelan seiring dengan langkah-langkah mungil kakimu yang datang menyapaku

Pada punggung penatmu tersandar tubuh gitar yang selalu memahat lesung manis di pipimu
Gitar sederhana yang sangat kausayang meski tubuhnya kian menyenja di tapal waktu

Teruslah berjuang, Nak,
biarkan Dia mendekap erat dirimu

ANAKKU (2)

Senja masih belum jua pudar saat denting dawai gitarmu melumat sebuah kesunyian
Sesekali kaucoba merangkai impi dengan mengukir not demi not hatimu pada lembar kegelisahanmu
Terbaca jelas di riak telaga matamu saat jiwamu menyanyi, binar itu nampak benderang menari


SANG PENARI (1)

Malam Jum’at, pekatnya kian sempurna, namun panggung terlihat semakin ramai, tak peduli dengan gulita langit yang kuat mencengkeram
Di kejauhan suara gamelan menyelinap kegelapan malam
Sosok gadis berkulit kuning langsat terlihat hanyut dalam liuk liku gemulai
Matanya terkadang setengah terpejam
Balutan kain setengah dada dengan selendang merah melingkar pada jenjang leher,
jelita, membuat hati tercekat berebut tempat
Sesekali didekatinya kerumunan mata-mata liar, sorak-sorai terdengar riuh membahana. Dan gadis itu melempar senyumnya
‘Kamu memang pandai sekali menari, Ratih. Siapa pun yang melihatmu menari, pasti seolah lupa diri.’
Waktu terhempas pada ujung malam
Suara gamelan pun berhenti berdendang
Sang penari belia siap melepas penat dan menjemput matahari cita

4. SANG PENARI (2)

Langit biru dengan jutaan kisah, tegap berdiri, menanti setiap diri teteskan peluh demi impi
Lari-lari kecil seorang gadis berkisah menjejak tanah
Kembali ke bangku tua sekolah meski semalam lelah meronggeng di kampung sebelah


5. BIARKAN AKU

Terik matahari teramat panas, menyayat tanah dan kelopak mata
Kita menatap waktu dan keluar di dalamnya
Berulang kali mencumbu detik dan menit serupa rangkulan detik kesepian
Mungkin memang ke akhir senja ku harus menjahit asa
Hidup menyanyi di ganasnya jalan sebab ibu tak mampu membawaku sekolah
Hingga bagimu aku hanyalah lumpur-lumpur sunyi pada gunung-gunung sampah


Bandung, Juni 2013