Selasa, 29 Oktober 2013

Puisi-Puisi A.Nawawi bin Mu'min bin Salami

A.Nawawi bin Mu'min bin Salami . . . Adalah manusia ke 5 dari 6 bersaudara beribu Ibu Ropinih binti H.Sulaiman. Lahir di Cirebon tepat pada tanggal kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), 17 Agustus 1992. 6 Tahun belajar di SDN 1 Guwa lor-Kaliwedi-Cirebon.  Melanjutkan belajarnya ke tanah penuh berkah Babakan-Ciwaringin-Cirebon,Pondok Pesantren Assalafie(2005-Sampai sekarang). Selain aktif sebagai 'pembelajar' di Madrasah Alhikamussalafiyah, gampang aktif di Komunitas Seniman Santri, Majalah Budaya MB2(Melek Bengi-bengi) dan LKP(Lembaga Kreativitas Pesantren). Facebook   A.Nawaawiesabit@facebook.com Nomor Handpone  089 657 987 501


AKU DAN BATU

Dulu, ketika ibu menanyakan apa cita-citaku
Aku sebagai laki-laki ku jawab ingin menjadi pesepak bola
Yang bisa membawa tanah kelahiran tercium harum
Susah di ejek-ejek dan gampang di saudarai tanpa pandang bulu
Kini, aku sedari dulu menganggap batu jadi senjata
Ketika bocah sepermainan melukai ku
Aku dan batu tak jauh sama, sama-sama kuat sama-sama bisa rapuh
Aku dan batu bercerita;
Keraskanlah hatimu ketika ada racun masuk ke dalam dada
Racun peradaban yang tak beradab
Keraskanlah isi kepalamu saat darah nadi lagi berdetak
Lawan kedzoliman antara manusia sesama manusia
Perangilah mereka dengan kesederhanaan berfikir bertindak namun susah di tebak
Bisa-bisa mereka kewalahan minta ampun merunduk-runduk
Tetapi, ah, apa ceritaku;
Sayangilah saudara-saudaramu
Jagalah mereka dari kutukan sampah-sampah dunia
Rangkullah persahabatanmu dengan Kasih Nya
Karena hidup menang tak akan menang selama-lamanya

2013



AKU INGIN MATI SEPERTIMU

Aku ingin mati seprtimu, kekasih Allah
Bukan karena peta’ziah datang bergerombol menyaku do’a
Bukan karena banyaknya air mata melepas sebuah kepergian
Tetapi apalah pantas aku mati sepertimu, Sayang
Saat memberi pelajaran kepada para pelajar engkau sanggup menelan ludah kegetiran
Sabar membeberkan makna kebersamaan antar saudara sesama saudara
Lirih suara engkau aku cermati kata demi kata menggapai makna
Sederhana engkau beri kesederhanaan dalam sehari-hari kepada kami
Tanpa mendidik keras begitu pun iri hati engkau beri
Masya Allah, segala petunjuk engkau aku telan pelan-pelan
Tanpa ingin bergejolak diri menguasai hati memanja hari-hari
Tabarokallah, aku serap apa itu baik dan buruk yang datang secara bertubi-tubi
Menggempur perawakan yang semakin hari kian menggerangsang
Alhamdulillah, aku bisa seperti ini karena engkau sanggup mematikan kotoran hati
Tuhan, jangan cabut nyawa ku bila serba coba telah gagal berkali-kali
Simpanlah kekasih Mu disisi Mu dengan Maha Agung Mu
Insya allah berkat ridho Mu aku akan pulang menyalami tangan kekasih-kekasih Mu
Amin ya robb al ‘aalamiin.

Babakan, Dzulhijjah 1434


MARI KEMARI

Mari kemari...
Menjemput titipan
Kembali seusai pergi
Menjuta perubahan
Mari kemari...
Bunga-bunga mekar terhadap kuncupnya
Kemarilah, pelan-pelan
Sampai pada tujuan kita, sayang
Mari kemari...
Disini ada perasaan sedang berkerumun jadi satu
Bebelok-belok arah ke kanan ke kiri
Salin runding tukar harapan-harapan tertentu
Mari kemari...
Selagi sempat sentuhlah
Sedari masih bisa datang dan pergi untuk kembali
Sayang, tak di jumpa
Kekasih, bukan aku rindu tempat pengaduan
Yang hilang tanpa peraduan
Tetapi kepalan tangan ini erat seerat karat
Iri menyaksikan senderan mencari-cari pegangan
Bukan aku Engkau panggil tetapi terasa aku Engkau panggil
Jemputlah bila karena ajal telah tepat waktu.  

2013


SAUDARA BERSA

Dari negri kaya raya
Kita adalah saudara dari saudara-saudara
Benua asia jadi punggung negri nusantara yang tercatat  coba memulai hidup bersih
Benua eropa jadi penyaksi serta penuntut rubah peradaban manusia ke manusia
Benua amerika jadi penyibuk diantara kesibukkan-kesibukan lainnya
Dan benua-benua lain ada saja jadi penggarap harap ketika perubahan dikendali tanpa terkendali
Kita saudara
Semoga selalu banyak nuansa dan berbangsa-bangsa
Sampai-sampai saling mengajak pada kedamaian lagi sejahtera
Tanpa umbar-umbar suara serak bertakbir ke penjuru dunia
Menyuntik langit dengan jenis-jenis nuklir secara bergilir
Melesatkan pesat peluru-peluru tanpa pandang bulu
Menekuk lutut saudara dengan saudara-saudara
Merampas langkah kaki saudara yang kikuk tak bisa apa
Menyikut saudara bekuk saudara sama saudara
Mengeruhkan cara berfikir saudara untuk saudara menelikung lipat kejujuran berbicara
           
Tuhan, karena firman serta petunjuk Mu kami tahu kami manusia tak punya guna bila putus asa secara biasa bisa
Dan dari para utusan yang Engkau beri ridho pun kami tahu asal muasal lupa dan celaka
Maka hari ini jangan segan-segan Engkau merengkuh kami dengan Maha Rahman Mu.

Babakan, 1434


TEMPAT KEMBALI

Tanah istilah tempat kembali serta bahan cipta
Membawa sisa umur mengarungi lautan api dan lautan cinta
Dapat menyulam kepala jadi raksasa
Pertapaan tua kini penuh debu-debu
Hilang di telan keinginan semata yang gagu
Kini kau ini sempati tempat kembali
Jenguk jejak sesak yang sedari dulu pernah tersimpan
Gambar ruang persrgi punya tunjuk
Bahwa celaka pertanda maut
Semata-mata pejamkan mata nyawa terangkut
O alangkah sangat rugi punya nyawa tak ada guna
O alangkah sangat celaka mata di tutup mulut di bungkam
O alangkah sangat jelas bumi di goyang-goyang dapat gelisah
Sampai terhadap penyair pun kau anggap penentu tempat kembali
Lihai menangkap kata tanpa makna itulah sebenarnya penyair yang pernah ada
Tapi-tapi penyair yang kuat hatinya pasti tak merasa terbelenggu sikap apa saja
Hati juga bisa diisi dengan kata-kata indah menganjurkan dosa
Semoga kata itu bisa berdo’a selama dosa menggelora
Istajib do’anaa ya Allah…

Babakan, 2013    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar