Sabtu, 08 Juni 2013

Puisi-Puisi Ummu Bashiroh

Ummu Bashiroh, kelahiran Kudus, 03 september 1994 dari pasangan Muslim dan Zaidatun. Bertempat tinggal di Cendono RT.04 RW.08 Dawe Kudus. Pendidikannya dari jenjang RA sampai MA di tempuh di Madrasah NU Miftahul Falah Cendono Dawe Kudus. Sekarang masih aktif menjadi mahasiswa semester IV di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus Jurusan Tarbiyah dengan Program Studi Pendidikan Agama Islam. Jika ingin berkomunikasi dengannya silakan hubungi di nomor HP 085779823909 atau melalui alamat e-mail ummu.bashiroh@gmail.com.


CITA WARNA DUNIA

Denting dalam kesemuan bahasa
Tabu merengkuh dalam setiap cerita
Adanya dalam indah narasi cinta cita
Terbungkus sepi dalam detik penghabisan harap kata
Kering kerontang kulit wajahmu, terbaca jelas pada otot biru, menggariskan titik kejenuhan wajah muda

Kusutmu dalam muka yang berharap meski lelah
Mengepal tangan untuk kuat tanpa tangga penguat
Engkau ada bersama dalam cita-cita warna dunia
Hidupmu tergaris di sudut-sudut kumuh
Jauh.... jauh dan sangat jauh
Untuk mata jernih melihat menyeluruh

Meski dalam kehimpitan hitam
Yang begitu mencekam...
Menerkam...
Semangatmu yang pekat benar-benar menghitam membara
Dalam waktu tak sementara
Demi cita untuk mewarnai dunia


BATU DI HARI TUA

Engkau yang di sana
Cemasmu pada masa
Mengambang tak terbaca
Kerutan keningmu adalah tanda
Saat waktu telah memakanmu
Dan kamu memakan semu
Hanya dalam “harap” engkau tanpa “harap”
Dan hanya dengan “sesal” engkau tak mampu menyesal

Keganasan dunia telah memburumu
Menamparmu dengan sajak-sajak kebodohan batu
Menerobosmu dalam jengkal yang menganga
Lukamu bukan lagi biasa

Meskipun langit itu menguning di fajar kehidupan
Dan kehidupan membungkam di kehitaman
“Andai” adalah mantramu
Mantra tumpul tanpa mata
Mata penglihat dan mata pembuka
Duniamu telah tergerus masa
Hanya sisa-sisa sajak penyesalan kata
Bangkitmu adalah usaha tanpa kepastian pada akhir cerita


PENGEMBALA CERDAS

Di hamparan luas, tempat padi menguning
Burung-burung berlomba terbang
Bersahut-sahutan, memetik satu biji tanpa serang
Ironi datang menghadang
Bocah pengembala dan suling
Menari-nari bersama ilalang
Sembari baca alam yang terbuang

Tanpa eja apalagi membariskan kata
Hidup adalah ejaan setia
Setia pada semua, milikNya
Baginya pendidikan adalah dunia
Bukan deretan kata

Tangisnya, antaran kata membunga
Bunga busuk harumnya
Bacaannya, kata terkotori kelalaian penguasa
Kata, bahasa berhamburan di mana-mana
Baginya bukan pendidikan nyata

Hidupnya tercekik penguasa
Penguasa  kata bahkan bahasa
Yang lalai akan mahkota sementara
Tapi sejati ada padanya
Kecerdasan nyata
Adalah “pelihara milik dan hakNya” menjadi tasbih ejaaan kata


PENA PATAH

Sudut ruang tenggelam 
Dalam malam mencekam
Terukir sejarah indah di sana
Sejarah penuh tangis, tawa
Di antara ceria dan nestapa

Di bawah lengkungan rembulan
Terurai kata di sajak lelehan
Selembar kertas kusam
Terkenang sejarah manis tapi masam

Hanya tertulis satu kata
Tanpa basa-basi tak bermakna
Tergores sejarah indah di sana
Indah tapi penuh air mata
Hanya satu kata
Kata “cinta”
Mengenang kisah tanpa perwujudan nyata

Sajak terurai pada selembar kertas
Bersama pena patah bekas
Jelas terukir kisah
Akan kepiluan sejarah

Sepucuk kata mengatakan “cinta”
Penisbatan malam-malam tenggelamkan senja
Senja penggoda pandangan
Bukar sekedar lilin-lilin yang meredup terkikis zaman

Katanya adalah “cinta”
Cinta pada cahaya
Cinta pada “tahu” nyata
Hingga kata tak lagi menjadi pembohong kehidupan belaka


MENANTI SENJA

Suram dalam cerita
Aku berdiri dengan rerimbunan duka
Pilu tanpa batas masa
Menggugah bait-bait luka
Hingga darah melaju dengan keindahan semunya
Mengoyak tubuhku yang kian lesu
Dalam penantian-penantian semu
Kebodohan yang membelenggu

Dalam tatap penuh harap
Mencari senja di sudut-sudut gelap
Mengadakan yang belum ada
Dan meniadakan apa yang ada

Bujuk pencarian merayu
Menari-nari semu demi yang baru
Inovasimu.... inovasimu...
Di mana ku harus mencari hadirmu... senja...
Setiap detak jantung adalah pencarian menujumu
Hembusan nafasku melayang-layang terbang bersamamu
Kau adalah yang indah dan baru
Adamu adalah baru yang ditunggu

Senja...
Datanglah... Ceriakanlah dunia
Dengan sinar indah dan senyum ramah
Barumu adalah anugerah terindah

Puisi-Puisi Hayatul Husna

Hayatul Husna, siswa kelas XI.IPA.1 di MAN/MAPK Koto Baru Padang Panjang. Lahir di Paninjauan, 9 September 1995. Berdomisili di Padang Panjang, Sumatera Barat. Husna sekarang aktif melakukan kegiatan kesusastraan di Sanggar Sastra Rumah Puisi Taufiq Ismail, di samping itu ia juga mendapat peran penting di Sanggar Sastra Siswa Indonesia-Cakrawala (SSSI-Cakrawala) di madrasahnya.

Sejak aktif sebagai anggota forum kesusastraan, karyanya berupa puisi dan cerpen pun sering mewarnai koran-koran lokal Sumatera Barat. Sebentar lagi ia bersama teman-temannya akan merilis sebuah antologi sanggar di madrasahnya. Untuk kontak lebih lanjut, bisa menghubuinginya via nomor 085766158796, atau email melalui hayatulhusnatherayra@gmail.com


DENGAN KERTAS DAN TINTA

Berteman kertas dan tinta
Lukiskan kisah hidup manusia
Tentang perjuangan kaum proletar
Meraih sukses dan bahagianya
Bangun pagi mengais rezeki
Di antara tumpukan sampah yang menggunung tinggi
Demi mendapat sesuap nasi untuk bertahan sehari- hari
Itulah perjuangan hidup sang pemulung
Siang malam di lampu merah dan jalanan
Berpanas hujan harap belas kasihan
Dari satu dermawan ke dermawan penuh harapan
Pengamen pun ingin bertahan
Pagi hari di pinggir jalan dengan sapu di tangan
Dari ujung jalan hingga jauh mata memandang
Mengumpulkan sampah para bangsawan
Tukang sapu pun peduli perjuangan

Hai kawan
Tidakkah ada rasa pedulimu terhadap mereka
Adakah pintu hatimu terketuk disana
Adakah tangan yang terulur untuk mereka
Tidakkah kau tahu
Mereka juga punya impian
Ingin tersenyum dalam bahagia
Dalam rajutan dan kasih sayang

Tapi
Tak perlu kau khawatir
Tak usah berduka
Tak turut meratapi nasib mereka
Mereka bersama kertas dan tinta
Tempat mereka merajut cita
Melukis, menangis, dan bicara
Mengeluh, berdoa dan berkarya
Kertas dan tinta
Sihir kehidupan mereka
Dengan seni yang mereka punya
Mereka telah raih suksesnya
Bersama kertas dan tinta.


SIKLUS ZAMAN

Hidup
Dari masa ke masa
Tinta lukiskan hitam dan putihnya
Pelangi pancarkan cakram warna
Manusia hidup sebagai tokohnya
Ubah warna dan legenda
Tua ke muda
Berganti rupa dan raga
Tutup yang lama
Ukir yang baru.

2013


SENI, KAULAH DALANGNYA

Seuntai kalimat tersirat makna
Tak bisa dibaca lewat mata
Hati yang ‘kan merasa
Meski mulut coba menerka
Mengeja kata demi kata
Tapi lidah terbata- bata
Logika pun ikut meraba
Itulah seni bahasa
Tak seorangpun yang tahu makna sesungguhnya
Peradaban berubah, seni pun lebih bermakna
Pendidikan maju, seni ikut tancapkan pedangnya
Pemerintahan jaya, senilah dalangnya..

2013


BERSAMA KATA, KITA MERDEKA

Indonesia merdeka karena kata
Kata bicara mengangkat nama bangsa
Pejuang bergerilya dengan rundingan
Rangkaian kata dan bait luluhkan keangkuhan dan ego
Kata berikan ketegaran zaman
Menangis dalam tulisan
Namun tampak tegar dalam kehidupan
Merintih dengan lukisan
Namun dinyata masih bertahan dengan senyuman
Berdoa dalam nyanyian
Di hati amatlah dalam
Batin kita merdeka, kawan
Ketika peluang akademi tak mampu membawa berlari
Kata berhasil membawa terbang tinggi
Ketika suara tak lagi didengar
Lewat kertas dan tinta mereka terpana
Mulut tak bisa bersuara saat zaman mengunci haknya bicara
Tangan tak berdaya meraih asa ketika borgol massa telah mengikatnya
Tapi tidak dengan kata
Disinilah kita bersuara
Bicara pada alam, bicara pada dunia
Kata adalah kebebasan nyata yang hadir di depan mata
Tanpa batas yang mengekangnya
Karena kata
Adalah kemerdekaan sejati
Karena kata
Adalah seni.

2013


SAMPAIKAN DENGAN SENI

Ketika pagi menjelang
Mentari masih tersenyum pada bumi
Menampakan rasa abdi pada Ilahi
Selalu sabar menjadi saksi
Pahit manis, keganasan dan kekejaman zaman
Lihatlah alam ini
Semakin hari hampir menemui titik final kehidupan
‘Kan berakhir menutup lembaran takdir kita
Bersiap ‘tuk hadapi langkah hakiki
Dihisab baik buruknya amalan
Tanda- tanda itu sudah semakin nampak
Bumi terlalu sering memuntahkan muatannya
Laut sering luapkan tampungannya
Tak lagi terima keluhan para perusak masa
Hingga suatu saat semua ‘kan bersatu memuncakkan amarahnya
Pandanglah pada insannya
Pemimpin tak lagi pada amanahnya
Khalifah jadi orang- orang yang khilaf
Muslim berpegang pada ikatan zalim
Siapakah yang bisa mendengar curahan ini
Semua sibuk dengan kepentingan sendiri
Dalam renungan di malam sepi
Hanya satu tanya di sini
Adakah yang terketuk di pintu hati
Lewat seni ungkapkan suara hati
Melalui bait- bait mengkritik zaman
Dengan melodi rangkaikan muhasabah diri
Itulah seni
Tempat menangis dan tertawa
Mengeluh, bersyukur dan berdoa
Kembangkan sayap Garuda
Ubah peradaban dunia.

2013

Puisi-Puisi Kiki Mardianti

Kiki Mardianti, lahir di Dumai, 29 Maret 1997. Berdomisili di daerah asalnya Dumai, Pekan Baru. Sekarang Kiki baru duduk di kelas X jurusan Keagamaan di MAN/MAPK Koto Baru padang Panjang. Kiki aktif mengikuti kegiatan kesustraan di Rumah Puisi Taufiq Ismail sejak 2012 lalu. Di samping itu, juga aktif sebagai anggota Sanggar Sastra Siswa Indonesia-Cakrawala di madrasahnya.

Sebagai anggota baru, Kiki terus mencoba mengasah kemampuannya dalam bidang kesusastraan. Alhasil, belum genap satu tahun Kiki aktif sebagai anggota di forum sastra, sudah ada beberapa karya tulisnya dalam bidang sastra muncul di koran lokal Sumatera Barat. Juga pernah memenangkan beberapa kali sayembara kepenulisan. Kiki dapat dihubungi via email kikimardianti29@yahoo.co.id atau langsung via nomor handphone 08972122970 atau 085355766010.


MENEMBUS KABUT KEILMUAN


Hembusan angin menyapa dedaunan
setiap hembusannya tersimpan azimah suci
tetesan air hujan menitiskan do’a-do’a agung,
mengukir cinta di sela cercahan harapan.
Hawa dingin menyusup di tulangku
menggigil aku di sajadah tahajjud
aku tenggelam di lautan munajat

Ya Allah,
aku tinggalkan tidur nyenyakku
aku tahan rasa dinginku
demi mengharap ridho-Mu ya Ilahi
setapak demi setapak,
selangkah demi selangkah
kuayunkan kaki menuju samudera keilmuan

Tebalnya kabut keilmuan tak membuatku rentan akan
keputus-asaan yang selalu menghinggapi
dan terbang bersama angan-angan indahku.
Deraian air mata senantiasa membasahi pipi
ribuan cobaan silih berganti tiada henti
mengangkat mimpi menuju layar kehidupan yang nyata
menggapai bintang yang jauh di sana
bersama para mujahid mujahidah

Indahnya sahabat seindah pelangi

Juga menjalin cinta kasih yang indah di perjalalan hidup
membekas di hati,menyentuh di kalbu
jalinan cinta kasih itu ku rangkai dan kutata rapi di relung hati
dan kujadikan satu album perjalanan hidup 
yang berbingkaikan senyum juang seorang mujahidah
bila bintang itu telah di tanganku 
Aku siap mengubah negeriku.

Kotobaru, Oktober 2012


SANDIWARA ZAMAN

Sebuah narasi dari negeri ini telah tercipta.
Terdapat antagonis di dalamnya
Panggung sandiwara pun dimulai
Dengan beberapa episode yang menusuk jiwa.

Terciptanya kenistaan, lahirlah kehancuran
kejamnya maling berdasi membuat dadaku sesak
Cukup! Aku muak dengan semua ini
Akhiri saja episode itu, sandiwara yang kau buat tak berarti bagiku.

Kini zaman pun kelam
Hilang sudah cahaya kedamaian
Hancur juga persatuan
Narasi tak beralur pun membutakan mimpi.

Wahai saudaraku, jangan hanya kau saksikan
Zaman yang bersandiwara di panggung kita
Telah menarik korban dari sandiwara itu
Tidak kah kau tahu ?

Mari genggam tangan ku
Dengan bermodal azimah
Kita bisa mengubah sandiwara itu
Menjadi narasi beralur 
Tiada lagi kenistaan, tiada lagi kehancuran.

Kotobaru, Juni 2013


DENGAN SASTRA, AKU

Dengan sastra aku bersyair,
merangkai sebuah kisah dari negeriku
Dengan sastra aku bercengkrama,
dari hiruk piruk desahan nafaz zaman
Dengan sastra aku berkhayal,
kedamaian abadi menyapa dinamika kehidupan
Dengan sastra aku wujudkan,
mimpi lama yang terpendam
Dengan sastra aku bangkitkan,
kobaran semangat yang telah tidur
Dengan sastra aku persembahkan,
Kipas kejayaan untuk menyejukkan dunia.
Kotobaru, 2013


16 TAHUN SUDAH

16 tahun sudah mata ini mengamati dunia
Dunia yang penuh tanda tanya.
16 tahun sudah hidung ini mencium 
Aroma pancaroba nan busuk.
16 tahun sudah telinga ini mendengar
Kabar asing tak sedap.
16 tahun sudah kulit ini meraba
Sengatan problematika hidup.
16 tahun sudah lidah ini mengecap
Pahit manisnya ilmu.
16 tahun sudah otak ini berfikir
Mempersiapkan tuah untuk negeri.

Koto Baru, Juni 2013


SAJAK KAKU KU BERMULA

Saat ku goreskan tinta ilmu di album kecilku,
saat itulah sajak kaku ku bermula.
Kuawali dengan basmalah 
Yang meniti di bibir ini.

Dengan kekosongan hati 
namun dibakar semangat diri
Akhirnya sajak kaku itu 
Bisa kuciptakan.
Walaupun tak seindah sastrawan
Walaupun tak sepintar penyair
Tapi, aku bangga sajak ku tercipta
Karena sastra telah tumbuh di hati ini.

Koto baru, Juni 2013

Puisi-Puisi Candar Irawan

Candra Irawan lahir di Kediri pada 19 Juni tahun 1993 silam. Saat ini saya tinggal di RT 40 RW 09 Dusun Krembangan  Desa Kepung Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri Jawa timur. Ketika saya memasuki masa SMA di SMA Islam Alwahid Saya Berkesempatan untuk mengikuti Ektrakulikuler Teater yang bernama ADIKARA. Dapat dihubungi  melalui Hp 085736695932 atau melalui email yang saya miliki di candrairawan72@gmail.com .


SANG PENARI DIUJUNG PULAU

Sepasang bola mata berbinar
Melihat burung dan bunga beraneka beraneka
Mengalun lembut tangan-tangan nan gemulai
Senyum pias menyeringai… tak lagi tertahan
Tak lagi tertahan bersambut peluh yang terurai..

Apa yang kau dapat nak?
Geleng geleng…. hanya geleng geleng
Ampun ibu , ampuunn….tak ada yang kudapat!
Aku hanya melihat warna-warna indah yang beruraian
Aku hanya tertawa… senang dan bersukaria

Anakku… sungguh kau tak melihat sesuatu yang besar di ujung sana?
Lihatlah itu anakku… lihatlah
Mendekatlah.. mendekatlah… lihat lalu tertawalah
Lihatlah … besar nian otak dikepala
Rasakanlah….. Rasa yang ada bukan pikir yang kuasa

Pandailah pikir otak yang kita punya...
Pandailah hati yang tajam merasa...
Lalu lihatlah.. dengan pandai otak dan pandai hati merasa
Besar rumah... besar ... besar keluarga kita

Bahu membahu kita selalu bersama
Pagi siang malam pun menjelang
Kepakkan sayap... kita buat dunia terpana
Karena kita dunia kan selalu tertawa


BODOH MENGAKU PINTAR

Dunia.... memang hanya dunia
Kancil yang hilang akal budinya
Harimau yang tumpul taring dan kukunya
Lalu... Mau jadi apa?

Hahaha.... Pintar sekali kalian
Hebat,  kalian memang hebat
Mengendus – endus mencari rombengan di rumah nyonya
Sadarkah engkau... Sadarkah kalian
Mana baju kalian .. Mana?

Kalian memang kini mulai pandai berucap kata
Tapi kalian lupa akan adanya jiwa...
Hey... Jiwa yang besar... jiwa - jiwa yang katanya telah pintar
Bajuku... Bajumu.. Ini baju kita bersama

Dunia tak pernah buta dan menutup mata
Tak sedikitpun mereka tuli ataukah ini  kalian memang
Ditulikan.. Dibutakan ...Dilucuti semua pakaian

Tak sadarkah ? Masih belum tersadarkah ?
Ini baju kita.... Baju kita
Tak malukah keluar rumah yang mewah nan megah
Tanpa sehelai benang milik kita sendiri

Jika kalian memang pintar
Baju yang katanya kuno ini lebih berharga dari rombengan si nyonya


BANTENG HITAM TIMUR KEDHIRI

Hah ...Apalagi ini?
Berkejar – kejaran , ber lari – larian
Tak lelahkah, tak merasa letihkah
Raga muda kuat perkasa
Berlari – lari mengejar si pencuri

Payah memang negeri ini bak tidur di alam mimpi
Buat apa kita kejar mengejar..
Buat apa kita beradu tanduk menyoalkan hal yang jelas

Jangan lihat ujung tanduk lancipmu...
Memang ku akui itu kuat untuk menusuk pencuri
Tapi bagaimana kau bisa tunjukan pada hakim yang kuasa?

Kau memang kuat bantengku... Kau memang kuat
Tapi cobalah kau urus badanmu
Ini identitasmu , perlulah rumput hijau  jiwamu..
Sedikitlah berpikir lebih dewasa, buat dunia melihat kita
Bukan untuk menghina bukan pula mencaci

Banteng Hitam timur Kedhiri
Yang selalu sigap, yang selalu sejuk walau ditengah bara api

Berlari.. berlarilah sekuat derap langkah kaki
Tapi jangan terlalu payah mengejar si pencuri
Hidupmu.. Jiwa dan hatimu .. tak boleh mati


FILOSOFI MEMBERI KEHIDUPAN

Ayun - ayun tangan halus nan lembut tlah mengayun
Buaian demi buaian meluruhkan hati
Silir –silir terasa liris... Rangkaian alunan tembang
Mengalirlah doa yang tertuang dalam jajaran gunung yang kian ramai

Suara itu... Ya kudengar lagi suara itu
Suara yang kudengar kala terlelap dalam sepi
Tangan tangan yang masih menggerakkan
Terselip petuah –petuah mulia tuk jalani kehidupan

Mungkin .. suara dari penjuru  negeri 
Yang kian bergemuruh menyampaikan pesan perdamaian
Bambu yang bergetar memberi irama yang mendendangkan
Harapan... doa yang masih terus berlumuran
Selalu mewariskan pada bayi – bayi dalam ayunan

Sebuah lagu kembali di dendangkan.. Teriring anglung dan gamelan
Hati mendesis ketakutan...
Haruskah kehilangan semua ini
Makanan jiwa yang tlah lama ada dalam hidup
Berbaur indah dalam keberagaman

Yang ku tahu bayi – bayi itu kan tumbuh besar
Bersama dengan harapan dan doa beriringan
Ayunan tangan, lincah mulut melontarkan lengkap oleh pukulan penuh kenikmatan

Bayi – bayi negeri dongeng , jiwamu negeri ini kan berjaya


GUBUK TUA TEPI SAMUDERA HINDIA

Sekaranglah saatnya...
Batu gunung yang terukir di negeri hujan
Menampakkan betapa indahnya alam penuh persahabatan

Gending gending yang selalu merdu
Tembang manis terlantunkan mengisi kekosongan jiwa
Memecah keheningan
Di gubuk tua .. tepi samudra Hindia

Disini .. dibumi pertiwi ini
Batu batu gunung yang usang
Kayu kayu pohon di lahan yang telah gersang
Bermodalkan hati seluas lautan.. 
Batu usang pohon tanah gersang secerca keindahan pun memenuhi

Inilah negeriku... negeri para nenek moyang
Gending dan tembang jadi keseharian
Tradisi mulia tanamkan emas tanamkan intan berlian
Di tanah tanah subur 
Di jiwa jiwa muda yang berbudaya

Hujan kan selalu ada
Selama lantunan doa – doa pohon-pohon lapuk
Menggetarkan sang penguasa angkasa

Disinilah kami tinggal
Mengajarkan pilar emas dan berlian
Isyarat goyangnya dedaunan kicauan burung kutilang
Selalu menghiasi di gubuk tua

Selasa, 04 Juni 2013

Puisi-Puisi Erwin Yohanes

Saya adalah Erwin Yohanes , anak kedua dari 3 bersaudara. Saya dilahirkan di kota Banjar Patroman tepat pada 3 Mei 1994. Saya mempunyai hobi bulutangkis dan bernyanyi sejak saya berumur 7 tahun. Pada tahun 2012 saya telah diterima di Universitas Atma jaya Yogyakarta dengan program studi Manajemen. 

Sejak saya duduk di bangku SMA, orang tua saya selalu mengajarkan saya untuk mengeluarkan ekspresi melalui tulisan. Entah faktor apa yang membuat saya bersemangat dalam hal menulis. Saya harap agar tulisan-tulisan saya dapat dipahami dan menjadi langkah awal saya untuk mengekspresikan diri.
            
Untuk info lanjut tentang saya (dengan percaya diri) pembaca bisa menghubungi penulis di nomor 081325749977 atau email melalui Unreal_wyne@yahoo.com


KESENIAN BERMODUS PENDIDIKAN

Berawal dari revolusi hipotesis para pakar ilmuwan
Keterampilan tertuju pada reinkarnasi otak kiri dan kanan
Publik tertegun sembari mengapresiasi budaya kesenian
Seniman tertarik  merotasi akal dalam bidang hitungan
Guru-guru sadar tuk  menerapkan aspek hiburan
Siswa-siswi terkagum kala berhasil tertawa bersamaan

Pementasan terjadi untuk mengibarkan tradisi kedaerahan
Bermodus pendidikan yang bernuansa keindahan para seniman
Tak diragukan lagi dari variasi-variasi  yang dianggap penelitian
Terlahir pelaku-pelaku baru tuk berambisi didunia penuh kreasi

Terlansir kabar dari buku-buku kelas kakap yang terjual dipasaran
Segudang perjalanan dijadikan seseorang sebagai sebuah pengalaman
Sejuta keceriaan melahirkan angan-angan  yang disebut khayalan 
Segudang ide membentuk kultural kental untuk siap berkompetisi
Generasi pendatang menyuarakan siaga satu dalam menjalankan misi
Mengorientasikan seni dalam diri tuk berbaur dengan sejuta prestasi


KOSA KATA BERKODE MORSE

Pelan-pelan kami melangkah pada kabut bertanda bahaya
Mata ini tak berdaya tertumpas angin dari utara
Kami coba melukiskan gurauan canda sekilas tawa
Walau melompat jauh setiap arti dari makna kata
Kami berserah pada diksi yang terus kami coba

Kami buat luncuran api dalam kompetisi putra-putri sang dewi
Gejolak derita panas yang membakar cita kreasi seni
Menusuk jemari hingga darah bercucuran cat dan tinta
Mentransfer sel-sel dari jaringan otak dalam sebuah kanvas
Menyerukan nama didikan tuk sebuah citra utama dalam pentas

Suluh ini kami tanam dalam pekat malam ber-cover  bintang
Mencari makna tulisan-tulisan kuno yang terletak pada sang rembulan
Terjatuh  ulasan padat dan singkat dari sejarah seni-seni orang
Merengkuh kode morse sang seniman tuk menambah kosa kata dalam pendidikan


PENULISAN KALA PERTUNJUKKAN

Gitar ini ditandai guratan-guratan nadi musisi
Sebelum kudengar teriakan disekitar petikan  sang penari
Dawai-dawai bergoyang melantunkan komposisi berlatar melodi
Membujuk rayu para wayang tuk bernaung sampai pagi

Tidak peduli  kuantitas honor walau tertimbun tebalnya kualitas
Bukan keluhan batin tuk setiap liter keringat yang memelas
Kulihat lesung pipit menawan tuk mengukur lelah yang tak tertahan
Sampai akhirnya tawa ceria menuliskan sejarah kebahagiaan

Laju serial musisi dan penari kupahami sedalam analogi
Tak ingin samar, anak lain pun keluar dari sangkar penutup diri
Disambut hiruk-pikuk  tanggapi keluguan dari sang seniman
Sampai kusimpulkan…
Teriakan lincah berbanding lurus kala bersinggung tepuk tangan

Kini mentari menjadi batasan saat kurengkuh momen tak tergantikan 
Prioritas kembali terkuak sambil merujuk pada tema pendidikan
Sang rembulan kembali kupanggil tuk menyaksikan sebuah kenyataan
Skripsiku selesai kala ku pandang sudut menawan dari sang seniman


PODIUM UTAMA PENA BERTINTA

Melepas syair-syair sendu meski terbelenggu oleh tema yang terikat
Berkisar antara nama pengarang dan biodata singkat
Putih bersolek cantik kertas A4 menorehkan cerita-cerita padat
Sampai akhirnya kulepas pena-pena bening yang begitu memikat

Tinta,dimana kau?
Kan kucari sampai ke kutub utara sekalipun
Mungkinkah sebuah tipe-x  yang telah membawamu pergi?
Ataukah kau berpindah ke dimensi lain kala terbias cahaya sang rembulan?
Ingatkah dulu saat kau menari pada jemari dan menorehkan beragam prestasi?
Kuharap kita masih berteman meski selalu ku rengkuh dunia pendidikan 

Pena bertinta…
Akhirnya kutemui beragam cerita berbalut fakta
Ku saksikan kumpulan insan terdahulu yang tak tahu isi makna
Kini kau angkat menuju podium utama bergelar “Sang Legenda” 

Kata diksi maupun kiasan bukanlah beragam teori tanpa praktik
Semua barisan bait kini tersebar seiring perjalanan sang mentari
Ingin ku berpesan pada kalian yang bertahta pena penuh tinta
Terima kasih puisi, kau jalankan misi secarik kertas berbaris kata
Teruslah berkarya pujangga meski jiwamu dirundung suka maupun duka


SENI TAK SEKEDAR PENERUS

Berlapis-lapis kain tergores kuas cair dan berwarna
Berpuluh-puluh kuas menjerit karena ditekan dan dipaksa
Beratus-ratus kain terbuang  ulah coretan yang tak perlu
Beribu-ribu makna keliru kini terganti oleh definisi yang baru  

Kurengkuh lalu kutenun realita disetiap panggung sandiwara
Seolah Generasi muda hanya meneruskan karya lama
Namun, opini itu telah dibantah oleh keringat putra matahari 
Karena sinar yang ratusan derajat fahrenheit  telah terpana
Menyaksikan anak yang memamerkan seni berwahana dunia

Cerita memang sulit berpapasan dengan prediksi
Nenek moyang mewariskan berjuta budaya untuk diteliti
Setiap seluk-beluk kata masih perlu dicari solusi
Sebagai pengungkap tabir dalam setiap rentetan misteri

Kesimpulan penelitian mengungkapkan sebuah fakta
Pendidikan bersatu padu dengan estetika kaum muda
Akan muncul karya-karya tak terduga dari cat maupun tinta
Keduanya tetap bertumpu pada arus keindahan kasatmata
Selayaknya sebuah imbuhan disetiap jajaran kamus bahasa
Hanya menjadi percikan bumbu dalam setiap kata dasar
Usia bukalah kodrat untuk diam dan hanya meneruskan
Karena seni bernubuat untuk mencitrakan cita baru pendidikan 

Puisi-Puisi Hanna Zakiyya

Hanna Zakiyya, mahasiswi strata 2 departemen metalurgi dan material universitas Indonesia. Hanna yang lahir di Bukittinggi, September 1989 ini adalah anak pertama dari 3 bersaudara.  Saat ini tinggal di Depok, Jawa Barat. Beberapa pengalaman menulis yang pernah diikutinya adalah penulis salah satu cerpen dalam antologi cerita pendek “Potongan Tangan di Kursi Tuhan”, menjadi salah satu cerpen terpilih dalam antologi cerpen pada media “Aesculapius” yang diterbitkan oleh media Fakultas kedokteran Universitas Indonesia serta puisi terpilih dalam lomba cipta puisi IADB yang telah dibukukan dalam “Epitaf Arau”. Tertarik pada puisi dan prosa serta mendeklamasikannya. Pernah menulis di beberapa blog, namun beberapa diantaranya pasif. Laman maya yang dapat dikunjungi untuk membaca beberapa karangan Hanna adalah zakiyyahanna.tumblr.com. Dapat dihubungi via facebook Zakiyya Hanna, twitter @zakiyyahanna. Alamat surat elektronik hannazakiyya@ymail.com / Hp.085669105257  
Alamat Domisili: Jl. Kedondong 1 No.32 Pondok Cina, Beji, 16424 Depok. Jawa Barat 


KRONOS ANOMALI

Kutitipkan lagi resah dipunggung-punggung hari, 
Membiarkan mega menjilati sisa-sisa siang yang segera pergi. 
Ia, resah itu, tak lagi terikat dalam benak,
Hanya menari dalam decak-decak tak berasa. 
Meninggalkan kagum dalam secangkir opini kaku. 
Tak lagi makna, ia telah terpasung. 
Bukan sedang merangkum kata ia teriak, tapi berdansa dalam alibi. 
Meluapkan setiap inti-inti stagnan melodi dalam garis kasar tak bertangga. 
Mungkin sedang membiarkan nada menguap dengan bebasnya. 
Mungkin pula sedang menggubah lagu hingga tak menggetarkan timpani. 
Adakah asa masih dalam frekuensi yang sama? 

Dan ketika malam merambat menghantar nokturnal pada bingar pestanya. 
Ia meninggalkan kelam membisu dalam ketidakpahamannya. 
Menghianati takdir hening dalam sejuta tangga nada. 
Lalu bukan lagi tawa yang difonis berderai 
tapi dengkuran yang mempermainkan koklea. 
Duniapun ia biarkan terlelap dalam ketidakpulasan.  
Tertatap sayu matanya 
Tapi, berapi binar surya, sejuta aksara.
Adakah kau masih dalam kotak foton yang sama?
Hingga retina mampu mengikatnya?

Ataukah harus kubiarkan kokok pejantan mengalahkan fajar kita?
Meniupkan kembali mimpi-mimpi yang memperpanjang lelapmu
Memasung jiwa dalam kefanaan raga
Dan ketika timur mulai menapak megahnya
Kau masih terpejam dalam lingkar nokturnalmu 
Lalu melupakan hangat pelukan embun
Namun menikmati dinginnya mentari
Adakah kita masih dalam lingkar kekal energi?
Ataukah hanya anomali?!

Semoga setiap tawaf eritrosit, menyadarkan kita
Hingga bongkah navigatormu, tak salah mengarah
Hingga Aorta tak percuma memompa
Dan akal tak lelah melukis fikirnya.
Adakah sisa kairos untuk kita?
Ataukah hanya kronos?!


KAMU DAN SEDERET LUPA

Suratmu, tak akan pernahku baca. 
Walau sampulnya telah merogoh sukma, hingga tergetar sudah rasa. 
Tapi lewat kaca matanya,
Tak lagi kubutuh sketsa dalam retina. 
Cukup cermin tasrah yang bertitah. 
Bahwa negeri ini negeriku juga. 
Tak kau undang memang. 
Tapi kami sudah sampai pada titik balik renaisans. 
Dan kembali dalam bias yang tertata dalam retorika. 
Kau mengumpan daya demi kantong-kantong tebal si tikus berdasi. 
Menelusupkan karung demi karung bulu domba dalam got-got tirani. 
Sampai pula kami pada delta sampah di muaramu. 
Dan kau masih bermain dengan lupamu 

Kali ini, tak lagi tentang suratmu. 
Tapi tentang anak-anak kita, yang tidak lagi mengenyam angka dan aksara. 
Entah sejauh apa monster-monster masa mimisahkan aku dan mereka. 
Hingga anak kita, ber-ibu globalisasi dan berguru teknologi. 
Apa yang mereka idap lebih dari sekedar Eudaimonia klasik yang dulu kau ceritakan.
Tak lagi kosmos, bahkan cerita tentang tuhan mati. 
Meraka bukan lagi Odisei, tapi pemuja kecerdasan semata. 
Sadarkah kau dosis renaisansmu terlalu belebih untuk mereka. 
Dan kau pergi membiarkan mereka mati dengan mulut berbusa. 
Masihkah lupa menjadi lumrah?
Aku masih berharap, kau tau tentang galur generasi yang kau buat pasi.

Kau harus tau,
Aku tidak sedang mengeluh tentang dirimu. 
Tapi mengamati gerilyamu membuatku semakin muak atas keberadaanmu. 
Terkadang fikirku mengapung, bahwa aku tak pernah membutuhkanmu. 
Lalu berkali-kali berharap lupa memihak memoriku
Tapi negeri ini seolah milikmu 
Sedang, aku serta anak-anakku 
Hanya kelereng-kelereng bocet yang bebas kau permainkan.
Kami hanya mampu berlari tak tentu arah
Demi chaos yang kau ciptakan untukku dan anak-anakku 
Hah, Entahlah 
Mereka bilang kami yang meimilihmu. 



TITIPAN MASA: KANAK

Senandung kutilang belum lagi reda 
Kala tapak-tapak kecil mulai mengayuh masa 
Seperti hari yang diam mengamati tawaf kecilmu
Begitu pula mentari tak lelah kobarkan semangatmu
Rasakan saja bulir-bulir embun mengecup mesra jengkal epidermismu
Dan hangat akan menggiring suka cita jiwa dalam aksaranya.

Tak lagi kantuk, hanya ruah asa menggebu
Bersaksi atas ratusan tapak yang harus dijelujur waktu
Kayuhlah semakin kencang, kanak…..
Lupakan saja deru angin yang memaksamu kembali
Sampirkan kembali angka-angka yang hampir menguap lewat pori-porimu
Dan kau akan rasakan buncah pengetahuan mengetuk serebelum mudamu

Saksikanlah bulir pepasir menggerutu minirukan semangat akar generasi
Lupakan saja jengkal tanah yang tertinggal di jejak sepatumu, kanak
Teruslah bergerak, usah risaukan masa
Tali-temali masa telah tanpa sadar mengikatkan diri di pergelanganmu
Dan inti-inti detik telah rela bersenyawa dengan fikirmu
Maka bergeraklah dalam warna-warni duniamu

Duhai kanak, pagar jelujur masa
Padamu generasi ini mengadu, menitipkan masa untuk sejarah baru


AKAR DALAM BELUKAR

Dua bola berbinar itu mengerling lemah
Tak ada pasangan bola lainnya yang membalas 
Tak lagi kata bahkan tawa meniadakan keberadaannya
Terlupa sudah sesosok nyawa kerdil dan lainnya acuh
Mungkin bukan sesiapa, tapi akar masa
Adakah rembes rasa yang melupakan ia siapa?
Adakah akan terpaham bahwa matanya adalah matamu kelak?
Pedulikah kita?

Bukankah susunan bata telah menepikan biduk kardus mereka
Tak samakah kita?

Aksara tak lagi buta, lagu tak lagi tuli,  kita merdeka
Tapi kedua bola berbinarnya terjajah serakah saudara
Jangan salahkan, bila…..
Polemik krisis pribadi memusuh raksasa angkuh kelak
Tak ayal, kanaknya tersia tanpa tatap edukasi, tanpa seni
Jangan salahkan…. Tika hatinya membatu 
Adakah semua tersalah pada mereka?
Atau rotasi kita yang berbeda.

Bukan masalah tertanggung atau tidak
Tapi siapkan jawaban untuk tiran yang kita tanam

Mereka juga akar yang tumbuh dalam rangka belukar
Dan kita mungkin pupuk 
Tak mesti, tapi pasti menyuburkan
Tapi adakah tumpahan pupuk itu rela terserak dalam liar rerumputan
Pilihan!
Maka tentukan!


IMPERIUM TERSUNDAL(KAN)

Bukan sisa peperangan
Bukan salah ia terlahir kini
Dan pasti….
Derap-derap eritrosit sama memburu dalam nadinya
Begitupun dendritnya mengantar sensor-sensor fikir 
Milyaran atom gerak bertawaf rapi dalam raksasa tubuhnya
Loncatan-loncatan elektron sarat energi, harusnya, ia juga miliki
Tapi entah vacan karya, entah inklusi globalisasi yang menyiksa
Tak bisa sama
Jejak ketidaksempurnaan semu menghukum mereka dalam pandangmu 

Mungkin dislokasi-dislokasi kiri telah berdispersi
Menumbuhkan mereka dalam kolom yang berbeda
Tak adakah subtituen kanan yang rela meluruskannya?
Pewaris generasi, ia adalah separuh imperium masa depan
Bukan takdir yang mereka enyam, tapi ketakpedulian
Timpang!

Eutopia telah berubah makna bagi mereka
Pada mimpi surgawi yang tak pernah fana
Imperium itu telah beredar pada garis yang menjauhinya
Meninggalkan makna hingga meniada
Dan mata-mata kanan tak mau lagi mengerling padanya

Puisi-Puisi Novira Ainayah

Novira Ainayah yang biasa dipanggil Novira, lahir di Pulau Jawa. Tepatnya di Kecamatan Kesambi Kota Cirebon, pada tanggal 6 November 1998. Wanita Cirebon ini lahir dari empat bersaudara. Motto hidupnya adalah “Hidup berawal dari Mimpi, janganlah kita bosan bermimpi,tetapi kita berusaha mewujudkan mimpi”

Kegemarannya menulis puisi berawal dari bangku kelas 1 SMP. Ia ditunjuk langsung oleh gurunya untuk mewakilkan nama sekolahnya untuk mengiuti lomba Cipta puisi. Awalnya Ia menolak, karena ini merupakan awal pertama untuk mengikuti acara tersebut. Dengan bermodalkan rasa percaya diri akhirnya ia mengikutinya. Dan akhirnya ia mendapatkan Juara 2 CIpta Puisi Se-Kota Cirebon pada acara FLS2N. dan dari sinilah ia mulai memiliki hobi baru yaitu menulis puisi.

Kini ia kelas 3 SMP, dan bersekolah di SMPN 11 Cirebon. Kini penulis bisa disapa dengan nomor handphone 083824698376 atau email di noviraainayah06@gmail.com


GORESAN PENA

Tatkala fajar menyinari bumi
Mentari pagi menyejukkan hati
Mengajakku untuk bersuci
Hasrat pun tak terbendung
Melawan nafsu ingin sekolah 
Tas pun ku angkat
Tak lupa pena ku bawa
Ku dengar kau berbicara
Menjelaskan seluk beluk pelajaran
Yang belum kami ketahui
Yang belum kami mengerti
Pena pun ku goreskan
Untuk mengisi kerumpangan soal
Demi mendapatkan sebuah nilai
Perjuanganku tak sia
Akhirnya mendapatkan nilai yang indah

Cirebon, 19 Mei 2013


KATA HATI

Denting jam mulai berbunyi
Goresan tinta menyayat hati
Tangisku tak membuatmu pilu
Hei .. Para manusia berdasi !
Lihatlah aku !
Tidur beralaskan aspal
Dan beratapkan awan 
Bagaimana aku tak bodoh?!
Duduk di bangku sekolah pun aku tak mampu Tuan!
Tuan.. 
Aku ingin bisa membaca
Aku pusing tak bisa menulis
Andai.. 
Masih ada pemimpin yang bisa menangis
Aku tak akan seperti ini..

Cirebon,20 Mei 2013


GURUKU

Guruku..
Kau mengajari kami
Yang belum kami ketahui
Yang belum kami mengerti
Guruku
Kata nasehat dan petuahmu
Terngiang selalu di telinga
Bagaikan cahaya mutiara
Bersinar walau di gelap gulita
Guruku
Engkau bagaikan lilin 
Yang mengorbankan diri
Menerangi sekitar walau tubuhmu
Luluh cair
Gerak demi gerak kau hafal
Garis demi garis kau lukis
Untuk memajukan Budaya Bangsa
Karena itu, aku berjanji
Akan belajar sepenuh hati
Menjadi Sarjana, menggapai mimpi
Menjadi insan berguna di kemudian hari

Cirebon, 21 Mei 2013


HELAIAN ANAK BANGSA

Ayam berkokok dengan nyaringnya
Menyambut pagi nan indah dan cerah
Membangunkanmu dalam mimpimu
Kau bergegas kerja
Untuk melestarikan budaya bangsa
Membatik,menari,menenun
Itulah pekerjaanmu
Garis demi garis kau lukis
Gerak demi gerak kau hafal
Benang demi benang kau untai
Untuk meraih sehelai rupiah
Lekas! Lekas!Lekas!
Suaramu saat berjalan 
Untuk lekas sampai tujuan
Betapa hati senang memandang guruku
nan berdiri dengan tegaknya’
menanti muridnya datang ke sekolah
Rumus demi rumus kau hafal
Kata nan sulit kau tulis
Untuk kesuksesan dikemudian hari
15 tahun sudah kau belajar
Dengan hasil jerih payahmu bekerja
Meraih cita-citamu sebagai sarjana


BUTIRAN SEMANGAT

Gemercik hujan turun dengan lebatnya
Membangunkanmu dari mimpimu
Kau lihat daun, ranting, sungai
Nan terguyur air
Semangatmu untuk sekolah kian menggebu
Berangkat beralaskan sandal
Berlari menggunakan daun pisang
Tak membuat surut semangatmu
Perjuanganmu nan panjang
Menyebrangi sungai
Dan berlari kembali untuk lekas sampai surga
Saat kau langkahkan kakimu ke kelas
Dengan perasaan malu dan sedih
Kau terlambat masuk..
Bajumu basah bagaikan terkena air tanah
Semangatmu nan berkobar-kobar
Melawan perasaan itu..
Kata demi kata kau tulis
Rumus demi rumus kau hafal
Untuk bekal masa depanmu nanti

Cirebon,21 Mei 2013