Selasa, 29 Oktober 2013

Puisi-Puisi Silvia Ningsih

Nama lengkap aku  Silvia Ningsih, Aku lebih akrab dipanggil chunenk,,,oupss itu ada sejarah nya karena berasal dari pariaman tulen yang notaben nya kalau cewek piaman dipanggil dengan cik uniang…aku lahir di Pariaman tepatnya di Desa Naras 1 tempat akau berdomisili sekarang. Tanggal lahir aku 22 September 1990. Dan alamat lengkap ku di Jl. Siti Manggopoh Desa Naras 1 Kec. Pariaman Utara Kota Pariaman. E-mail : Chiencu_chunenk@yahoo.com dan No Hp : 085272907406.


NYANYIAN BUS KOTA

Bisingan deru jalanan memekakkan telinga
Menghamburkan debu tertiup udara
Bangkit dini hari mengejar sang fajar
Terkupasnya senyum pagi sisa impian semalam
Yang cepat berganti tertindih oleh kesibukkan
Bolak balik beribu kendaraan
Melaju penuh debu yang akrab
Embun pagi berganti aroma pekat solar yang menyengat
Bergerak bersama tangan-tangan yang memegang
Peranan yang penuh pergulatan demi perjuangan kehidupan
Biarkan desauan angin tetap berhembus
Menelusuri tiap jalanan
Hingga berhenti pada tempat yang dijajaki
Menggapai pintu-pintu penuh karat dan bau besi tua
Berebut satu sama lain demi pegangan yang didapati
Petikkan dawai senar gitar pemberian teman lama
Berdenting di seantero bus kota yang melaju pesat
Bersaing dengan bunyi mesin tua
Mensamarkan suara nyanyian
Terus melesat membelah jalanan
Menggebulkan asap kendaraan



GENDANG KENDOR

Gendang lusuh dari kulit itu sudah lama tak dipakai
Terletak  diantara barang-barang rongsokkan tua
Mungkin bunyi nya tak semelengking dulu
Tak seorang pun memegang atau hanya sekedar mengusap
debu yang menempel dikulitnya
Bunyi dentumannya telah kendor disenggol waktu
menyusut menghilangkan peminatnya
zaman berganti, wajah berubah
yang dulu dipertahankan jengkal demi jengkal
Sama sekali bukan bait-bait lagu tanah airku yang menggetarkan sukma
Hanya seonggok harapan palsu
Yang tak mampu mengubah warna
Dan tetap selalu sama
Yang tak kan pernah menjadi pelangi kelabu


MAESTRO

Jari jemari tak sanggup
Untuk menggenggam lagi
Tak cukup kuat untuk merangkul
Apalagi berjabat
Lenggokkan yang indah
Berganti sebengkok tongkat tua yang lusuh
Penopang kaki yang rapuh
Gerak yang gemulai pun tak mampu
Dihadirkan lagi, tertindih lesu dibalik pintu
Di ujung ruang nan jauh
Decak kagum seribu tepuk tangan pun
Semakin menyayat pilu
Menghampiri rindu di panggung itu
Sorot sinar cahaya mensilaukan waktu terhimpit pertukaran zaman baru
Kini hanya tercatat oleh waktu yang bisu
Di dalam lembar-lembar sejarah yang terbuang hilang
 Disayup-sayup suara yang terhempas
Di akhir pertukaran zaman
Kini yang terdengar musik impor dunia
Jingkrak-jingkrakan
Merobohkan sukma, jiwa dan rasa


SEHELAI ANGAN KOSONG

Daun daun jati telah lama kering
Gugur dimusim kemarau yang mencekam
Tertumpuk
Tak seorang dari manusia hina memegang sapu
Di sudut jalanan itu
Rumput-rumput liar semakin tinggi
Bersaing dengan trotoar yang berlumut
Bau busuk dari seonggok sampah yang terjungkang
Menambah pedebatan panjang
Yang tak berkesudahan
Tak seorang pun peduli dengan keadaan itu
Tuk menghapus tangisan langit
Yang bersedih dengan sehelai angan kosong
Kini hanya tersisa hutan-hutan gundul
Bukan rimbun dedaunan hijau


BERKISAR MERAH

Langit masih berbintang
Saat kau paksa bulan untuk keluar
Menerangi satu relung kehidupan
Hingga mentari cemburu saat cahaya
Benderangnya terkalahkan
Kau tarik embun untuk membasahi
Bumi yang terkikis, kering, kusam dan
Kehausan
Seolah air mengalah untuk berbagi
Biarkan embun menyejukkan
Biarkan terik memanaskan
Bumi telah meregang-regang
Tersimbah darah pertumpahan
Meminta suatu perhentian
Desauan angin mnyebarkan
Merambah ke sudut-sudut
Dan relung yang terdalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar