Selasa, 29 Oktober 2013

Puisi-Puisi Jundi Amir Syuhada

Apa yang bisa ku-narasi-kan tentangku? Tak banyak, atau lebih tepatnya tak luar biasa. Aku lahir layaknya kebanyakan orang dilahirkan, bedanya, namaku ‘Jundi Amir Syuhada’. Tepat tanggal 14 bulan 9 tahun !996, bertempat di Semarang, tepatnya di rumah sakit persalinan. Aku tinggal di Kendal sampai lulus SD. Lalu hijrah ke Kuningan, Jawa Barat. Tapi masih punya darah Sumatera. Pujakesuma. Putra Jawa keturunan sumatera. TKIT, SDIT Robbani Kendal, aku angkatan pertama di sana. MTS, MA Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat. Angkatan 16, fosionz namanya. aku suka sekali berorganisasi, spesialisasiku adalah Jurnalistik dan Media, tertarik untuk menulis dan belajar eksak lebih dalam. Terlepas dari semua itu, aku sama saja seperti remaja lain. Labil, alay atau apapun itu bahasanya. Toh, bagiku itu justru proses menuju dewasa. Walaupun nggak aktif di sosmed, tapi tak apalah untukmu kuberi tahu. Twitter :@jundijass. FB: jundi a’es. Blog : ceritajas.blogspot.com. email : jundiamir45@gmail.com


MENUNGGU PULANG

Hari masih gelap, menunggu cahaya-Mu nan
Gemerlap
Syafi’I kecil mengayun langkah alisnya tertaut gundah
Tangan mungilnya berayun tanda bingung
Bibirnya merengut bisu buukan sendu lalu
Bertanya pada seorang tua bijaksana
(bukan) ulama, waaqi’ namanya
“guru, mengapa tahuku hilang enggan bersegera pulang?”
Ia tersenyum, lagi lihat langit dibumbung awan mendung
Syafi’I bingung, meniti pandang dalam gemuruh bergejolak
Penuh harap
“tahumu mengadu pada-Nya, sangsikan engkau lupa
Oleh dunia. Tentu ia enggan disbanding salah dan dosa”
Alis terangkat, caba ingat hari sebelum pekat
DOSA?
Oh, ya!
“tadi ada akhwat dengan betis tersingkap”
Nyengir lebar
Dan langit masih tak benderang
Menunggu cahaya-Mu pulang ke peraduan


PROSES

Belajar, sama-tak sama dengan berjalan
Ada medan dengan seperangkat topografinya
Hambatan dengan istiqomah bergganti merata
Dan tujuan, dengan segala iming bertabur dusta
Jikalau nilai adalah terpenting dalam
Cerita
Maka apalah arti proses sepanjang masa?
Usaha sampai ujung dunia?
Kucuran keringat dan air mata?
Jadi sampah kenangan dalam memoir kata

Ini tak sebatas coretan satu-nol-nol dalam
Kertas ulangan
Bukan pula tentang serentet prestasi diakui ahli
Apalagi sekedar penglaris nama, penderas laba
Aku tak berujar  : “proseslah segalanya”
Tapi…
Untuk mengerti mata rantai ekosistem
Menganalisa laju reaksi endoterm
Atau hanya mengira-ngira sepotong peluang
Dari diagram venn
“segalanya perlu proses”
Bak observasi sebelum teori
Dan kata dalam sebuah cerita


PENGGADAI NURANI

Umat baginda di atas meja dakwa, curang menghukum
Umat baginda di balut seragam berpangkat, culas menindas
Umat baginda dipintal kerah berdasi, mengacung busuk merutuk
Umat baginda dengan sederet nama, meracuni harkat suci
Umat baginda di balik topeng maya, mencuri tak berhenti
Umat baginda penjaja kue tua, mengeruk suka dari nestapa
Umat baginda putih-merah namanya, tanya jawaban saat
Ulangan
Umat baginda putih-abu namanya, disuling tugas jadi
Emas
Umat baginda putih-abu namanya, menyulap moralitas jadi
Solidaritas
Umat baginda menuhan dunia bohongi nurani
Racuni fitrah suci
‘siapa dia sang penipu, bukanlah jua umatku’
Baginda di sana, daku mengadu dalam pilu
Menahan perih hati teriris habis
Menatap bisu umatmu penggadai ilmu
Dengan sebongkah batu
Membeli masa depan dengan
Curang bertabur kebohongan


TUJUH

Tujuh pagi tepat mentari awali hari
Mengiring langkah kai
Susuri jalan sepi
Hati terenyuh tangkap seringai
Bocah-bocah penghuni pantai
Mencelup teratai
Kamu-kamu tanpa peluh masih berkeluh
Menatap dunia dari satu sisi tak nyata

Tujuh malam saat surya beranjak hilang
Menyibak senyum dalam temaram
Belajar baca Al-qur’an
Hati beriak pelan merekah
Mengeja takdir bocah-bocah
Pengejar nafkah
Kamu-kamu dengan lalai tanpa selang
Kapan hendak pulang?


INKUBATOR

Kata siapa?
Orang handal dengan
Ide besar lahir dari
Sekolah megah berfasilitas
Mewah, tapi…
Penuh dengan guru-guru
Serakah, dijejali kawan-kawan
Bedebah serta proses
Belajar instan hampir tanpa
Jalan
Siapa percaya?
Sekolah biasa tanpa akreditasi
“A”
Berfasilitas serba tak ada dilindungi
Bangunan sederhana kadang rapuh
Dimakan usia, tapi ditempati
Guru-guru berdedikasi tinggi serta teman
Penuh mimpi tulus berbagi serta paham betul arti
Proses sepanjang masa, sepenuh usia
Mengkader orang-orang gemilang
Menetaskan ide-ide cemerlang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar