Kamis, 31 Oktober 2013

Puisi-Puisi Eka Damayanti

EKA DAMAYANTI lahir di Kediri, Sabtu, 16 Februari, tinggal di Batam-Kepulauan  Riau, kini menempuh studi di Jogja. Anak bungsu dari lima bersaudara ini tercatat sebagai  mahasiswa di jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UGM. Selain aktif sebagai writer, trainer, dan speaker, Dama juga bergiat sebagai pelatih sekaligus sutrada pementasan  puisi. Pengalamannya dalam berpuisi mengantarkannya beberapa kali menjuarai lomba cipta dan deklamasi puisi. e-mail ekadamayanti_16@yahoo.com & twitter @aksaradama, dan nomor handphone  085767451633.


IDEAL IS ME

(kala) Sumpah Pemuda
idealismenya tingkat dewa
(kala) Sumpah Jabatan
idealismenya tinggal sedepa
(kala) Sumpah-sumpahan
idealismenya ditinggal di mana?

Yogyakarta, 28 Oktober 2013




KATARSIS

Kita
Tak butuh kalah
selagi menang masih membuat kita lelah
karena menang tak terlalu indah
sebab menang menyembabkan muka yang ramah
jika menang sekadar pongah

Kita
Tak butuh sekolah
selagi pendidikan tak lebih sebagai penundukkan yang terarah
karena arah tak juga kita papah
sebab ramah mulai meremah
jika lelah masih saja dijarah

Kita
Tak butuh kisah
selagi cerita bebas menguar di setiap mimbar
karena akar lebih dulu dicalar
sebab langkah menjejak kabar
jika saja kita tak bersadar

Yogyakarta, 16 Oktober 2013


PEMUDA KHATULISTIWA

Oktober segalanya bersumber

Ada sumpah
Ada bulan (basah) bahasa
Ada hari-hari yang diingati
Ada juga hari-hari yang dilampaui

Pemuda yang mana yang menyumpah
Mereka lupa menanyakannya
Sumpah yang kini tinggal sejarah
Dan jadi peringatan untuk mereka yang keringatan

Untukmu generasi khatulistiwa
Ombak berita jangan sampai menelanmu hingga ke pusara

Yogyakarta, 13 Oktober 2013


ZIKIR TERAKHIR

yang bercadar dicalar-calar
yang yu-ken-si di sisi-sisi
yang sunnah di aneh-aneh
yang wajib digalib-galib
yang seranah di remah-remah
yang hantu dituhan-tuhan
yang manakah yang serakah

tak ada lagi tengadah di atas sajadah
kecuali sebutir zikir
terukir di gigir

Yogyakarta, 2 Mei 2013


PUISI MATI BESOK PAGI

Di sinilah kita mengemis
Di tanah tempat kita menangis

Suatu malam tanpa kelam
Suatu pagi tanpa hari
Kita saling bersembunyi
Pelan-pelan mencuri
Menimbun sendiri
Harta yang harusnya milik bersama

Puisi tak lagi sakral di sini
Sejak sajak murah dijual
Pada orasi partai
Pada bursa pemilu yang pilu
Makna lesap dari kata
Arti lepas dari esensi
Puisi malu, sajak sesak

Masih sisakah seniman yang beriman?
Yang tak menjadikan tuhan sebagai pameran
Yang tak mempertuankan diri sebagai tuhan
Yang tak hanya sibuk membagi tanda tangan
Tapi juga tanda kehidupan

Masih sisakah seniman yang begitu?
Yang mau mengajariku lagu langit biru

Yogyakarta, 22 Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar