Selasa, 29 Oktober 2013

Puisi-Puisi Irwan Apriansyah

Irwan Apriansyah, lahir di Lebak, 17 April 1989. Saat ini tengah merampungkan studi di Bahasa dan Sastra Indonesia FBS-UNY angkatan 2010. Menulis puisi, cerpen, resensi, dan esai. Beberapa karyanya termaktub dalam beberapa antologi bersama Ia Terbangun di Tahun yang belum Tercatat Kalender (Kendi Aksara: 2011), Puisi Empat Generasi, tribute to Dr. Boen S Oemarjati (Yumi Pustaka: 2012) dan lain sebagainya. Selain itu beberapa karyanya termuat di beberapa media massa dan cyber. 


PENYERAHAN DIRI

Akan kuserahkan belantara kesepianku padamu
Dan nyawaku, akan kusandingkan dengan nyawamu
Reguklah tiap tetes bulir embun dari ujung daun hidupku

Pada momen penyerahan ini, percakapan berakhir
Masa silamku biar kuarangkan dalam gemeretak api

Mataku jatuh pada sepasang kakimu.
 “Jadikan aku seorang budak, atau sebuah bidak
yang kau kehendaki.”

Kau memandangku dengan mata diam,
lalu senyum pualam. Jemarimu mekar, seperti kelopak sekar

Telah kau runtuhkan dinding-dinding penderitaanku
Juga kastil-kastil sunyi pada puncak bukit
Tempatku mendengar nyanyian gagak melayari angin

“kukira lidah maut akan menjilat nyawaku dalam kesendirian.
tapi kau bebaskan aku dari terali sepi ini, putri.”

Rambutmu beriak dalam desau angin,
tubuhmu memunggungi merah senja yang berjatuhan dari langit.
Ulurkan tanganmu perempuan ungu, genggam sebongkah nyawaku.

Yogyakarta, Agustus 2013



SEPERTI MOONLIGHT SONATA

Kudengar sendu suaramu seperti Moonlight Sonata
Namaku kau rapalkan di malam luka
Cahaya bulan berdenting pada ruas-ruas matamu,
Ketika angin dan awan kabur.

Simfoni kesedihanmu terburai
seperti ledakan kembang api pada malam tahun baru yang murung,
kau datang memanggul airmata yang hampir pecah
“kembalilah, pada awal ketika jarak tak pernah ada,” katamu

Aku ingin memeluk bisu dukamu.
Aku ingin memeluk runcing kecemasanmu sepanjang waktu.
Aku akan kembali seperti kepak burung enau
Meluapkan bait-bait masa lampau

Yogyakarta, Agustus, 2013


SINTA

Ia hening dalam kata-kata perempuan itu padanya.
“Bertahun-tahun kudengar suaramu
dalam nyeri kesendirianku”
kera-kera berduka, para wanita menyulam kesedihan

di sana, Laksmana dan Hanoman
hanya menyuguhkan ingatan,
tentang jerit rindu sepasang kepodang
dari pohon di seberang lautan.

Setelah peperangan usai di bawah gunung Suwela
Ia hampiri Sinta yang telah merajut keindahan dirinya
Tapi kini noda tertoreh pada dada kesucian
Ia ragu, pada cinta yang tampak tidak pasti.

“Maka terjunlah ke dalam unggunan api, cintaku.
Biar kulihat kesucianmu utuh. Dan keraguanku luluh.”

Demi seluruh derita di belantara hidup
Demi segenap jerit kerinduan yang tertikam
Trijata, bersama ratap perempuan-perempuan Alengka
Menghempaskan kayu-kayu sebelum jadi bara

“Jika dari deritaku kau dapati kemuliaan,
akan kutempuh jalan itu tanpa ragu,
untukmu” ucap Sinta,
kala itu gemeretak api telah merambat.

Maka setelah pertemuan,
semakin akrab kehilangan.
Unggunan api menelan seluruh derita, dan tarian asap
dan anak-anak api yang merayakan kesetiaan.

 27-07-2013 


APOLOGI KEHILANGAN

Tak ada kata maaf pada siul burung
yang kehilangan sarangnya,
duka daun-daun berguguran dari ranting

tak ada kata maaf pada ringkik kuda
yang meninggalkan tuannya
juga pelana, kehilangan pantat yang bijaksana

tak ada kesedihan pada wajah ilalang
yang menunduk ditinggalkan angin

tungku tidak menangisi kesepiannya,
meski arang dan api tak ada,
dan tau asap tak pernah kembali.

Klebengan, Juli 2013


TAK AKAN ADA LAGI

Tak akan ada lagi puisi-puisi mengaliri pusara kerinduan
alam tidak lagi bernafas, udara jadi sesak
Detik demi detik kehilangan setajam pecahan cermin

Akan tak ada lagi cinta, akan tak ada lagi kesedihan
Pertemuan dan kehilangan tak ada beda
Sunyi dan ramai cuma tempat singgah dari gurun ke gurun
Teduh pohonan dan riak mata air bukan lagi oasis

Tapi adalah metamorfosis kesepian yang menggigil
Tak akan ada lagi lagu-lagu kenangan merobek dada
Tak akan ada lagi April dan Desember dan April
yang menghidupkan nyala lilin usia, tak kan ada

seorang lapar, dililit suar-suar Dante dan Virgil.

19 Juli 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar