Kamis, 31 Oktober 2013

Puisi-Puisi DENI EKO SANTOSO

DENI EKO SANTOSO, dilahirkan di Bogor pada 5 September 1994. Merupakan putera pertama dari pasangan Budi Santoso dan Dina Permanasari. Mempunyai hobi traveling sejak kecil. AlumnusSDN Curug 3 Bogor, SMPN 4 Bogor dan SMAN 2 Bogor. Selama masa sekolah, berhasil meraih juara dalam berbagai lomba akamedik maupun non akademik, salah satunya adalah meraih juara III lomba KTI se-Jabodetabek Dies Natalis Universitas Trisakti tahun 2011. Melanjutkan Pendidikan tinggi ke kota Yogyakarta. Sekarang merupakan mahasiswa semester III Jurusan Teknik Fisika, Jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Aktif berorganisasi di Badan Eksekutif Kemahasiswaan Jurusan. Bertanggung jawab atas subbidang Keadvokasian dan Media Informasi di organisasi tersebut. Bisa dihubungi lewat HP 0852-8059-5621 atau email antikroco@gmail.com.


SATU DUA TIGAEMPAT

Gelap

Gelap Malam
Gelap Temaram

Gelap malam mengalun
Gelap temaram menyendu
Gelap arak kumolonimbus

Malam ini gelap gelap
Malam gelap sendu tersingkap
Gelap gelap ini malam
sendu terbangun kemintang malam


Rintik

Rintik suka
Rintik duka

Rintik suka siapa
Rintik duka siapa
Rintik antum beta

Rintik runtak rantuk rintik
Duka kekang geliat hati
Duka patah rindu berganti
Jaya rindu kelopak mentari


Rindu

Rindu jaya
Rindu mega

Rindu tanahku merekah
Rindu kampungku mengangkasa
Rindu desaku mengudara

Buluh perindu meretas tunasnya
Mega lazuardi biru mengarak
camar tinggi membumbung harapan
Rindu berperi tak bertuan

Satu

Satu dua
Bangkitlah Indonesia

Satu dua tiga
Satu beta berjuang
Dua antum menghamba

Satu dua tiga empat
Satu tanah satu negara
Dua kata pergilah duka
Empat arah satu daulah

Bogor, 20 September 2013


SYAIR TAK BERARTI

bagai penyair aku merangkai madah dalam pilu demi
menumpahkan rasa sayangku padamu yang berperi
menggebu gebu tak tertahan haru biruku meratapi
engkau yang indah tiada tanding tiada tepi
tiada banding dilarung hilang dari sini
ke alam sana menyesak aku menyendu hati
rindu membatin dalam kemelut hati risih
terisak sesenggukan walau waktu bergulir tak henti henti

syair ini tak berarti tak beraturan kugubah demi
melepas rindu rasaku padamu disaat saat menyepi
ini sendiri perlukah mungkinkah menangisi
merelakan berpisah mentautkan memori terkait
berkait saling mengkait di relung sanubari kecil
berharap namun tak berarti tak akan terjadi kembali
kembalilah, kembalilah, walau tak ramah lagi ini
bumiwalau tanpa sayap kau tetaplah pujangga di
setiap hariku tanpamu aku akan terus menerus dilucuti

aku tertegun tak sadarkan diri menepi
meratapi senja usia yang takkan berubah menjadi
pagituhan ! aku merasa hidupku tak berarti
lagidisini aku bukan aku yang dulu indah berseri
serisekarang yang kelam hitam legam kemelut lendut perih
pedih bergulat dengan nasib, terbanting roda zaman ini

itu aku, remah remah pembangunan negeri

Yogyakarta, 5 Oktober 2013



HABIS !

Berdiri
berlari
tak kuasa lagi

Ini hati lukup duka
Bangga
Aku yang punya

Deru angin mendebu
Bisik kasak kusuk
Hati ?
Hatiku saja sinis padaku

Lain tangan lain sajaknya
Lain masa sama peluhnya

Meretas asa
Apa hanya belaka ?
Putus asa ! putus asa !
Asah asa ! asah asa !

Lihat keatas,
Lihat ? gelap gulita
Lintang lantung !
Bintang meliuk lukiskan pola

Usai senja ?
Gelap dimuka ?
Diam kau ! diam !
Dan bahkan sinisme itu menghujam dalam dalam

entah setan apa yang merangkul kepalaku
begitu menyesakkan,
rasa rasa putus harapan.

Masaku sudah habis
Aku adalah sampah yang tak bisa direproduksi.

Masaku sudah habis
Aku adalah karbon yang gagal menjadi intan

Masaku sudah habis
Bagai Jati mengering kemarau abadi tak kunjung habis

Surya mengintip dicelah nestapa
Mengukir bercak cahya elok nan indah
Orang orang tertidur terbangun menggapainya

Tolong aku kawan,
Aku ini sisa sisa zaman dulu
Surya itu bahkan tak dapat kulihat
Sudahkah jatahku hidup habis ?

Sleman, 11 Oktober 2013


MEREKA (1)

orang orang ini beralih kiblat, sesaat
Sejenak bergumul, atas nama kebenaran
berikrar lugu, jujur dan absah

kali ini ibunda pertiwi merintih,
gagah dan gigih, mereka berbaris, seakan mereka punya dua nyawa
alma alma mereka lebur jadi merah dan putih
demi satu suara, demi ibunda

Saat ibunda dirampas haknya,
Terbuai dalam nestapa dan duka angkara.

Demi tuhan !
Kalau tak ada yang sudi membela,
Merekalah meruah mengeriyap
diam diam siap merayakan pagi
ceria dimasa kini dan nanti

Mereka bukan pahlawan super, bukan sayang
Mereka juga bukan keturunan Pandawa
Merekahanya mahasiswa strata

Yogyakarta, 15 Oktober 2013


MEREKA (2)

patriotisme polos nan mempesona
nasionalisme sederhana nan romantik
mereka tujukan dalam pekatnya nestapa yang tak kunjung habis

kali ini gantiibunda hendak haturkan salam pada mereka
bagai koboi mereka berlalu, begitu saja
kembali  mengembara ke alma mereka
kembali mengembara di bangku kuliah mereka

mereka bukan penolong yang gila sembah, bukan sayang
mereka juga bukan orang yang minta puja lagi harta
mereka hanya mahasiswa strata

Yogyakarta, 21 Oktober 2013

1 komentar:

  1. MicroTouch Titanium trim as seen on tv tv
    MicroTouch Titanium trim as seen black titanium on tv. MicroTouch titanium trim as seen on tv. MicroTouch titanium trim as samsung galaxy watch 3 titanium seen 2019 ford edge titanium for sale on tv. MicroTouch Titanium black titanium ring trim 2017 ford focus titanium as seen on tv.

    BalasHapus