Selasa, 29 Oktober 2013

Puisi-Puisi Zulfikar

“Zulfi” itulah nama yang biasa dipanggil oleh warga Asrama Mahasiswa Islam Sunan Giri kepada remaja yang bernama lengkap Zulfikar. Lahir di Tangerang pada tanggal 4 April 1993, tepatnya di Kp. Buaran Jati RT.03/02 Ds. Buaran Jati Kec. Sukadiri. Penulis merupakan orang yang senang mengikuti berbagai macam organisaisi baik yang berada di dalam maupun luar sekolah atau kampus. Adapun organisasi yang pernah ia ikuti ialah Pramuka SMPN 1 Mauk, PMR SMAN 2 Kab. Tangerang, Remaja Masjid Al-Mujahidin, Unitas Matematika UNINDRA, dan HMI UNINDRA.



SERDADU PERUBAHAN

Negeri berkembang
Berasa berubah maju
Membangunun ‘tuk itu
Sang penguasa berseru
Namun kapan akan terjadi

Retorika hanya retorika
Tak berimbas apa-apa

Ekonomi terpupuk
Namun hutang menumpuk
Sikap otoriter
Membuat rakyat geram

Serdadu perubahan datang
Menuntut akan rezim orba
Demonstrasi solusinya
Penguasa tuli hatinya
Karya : Zulfikar
Serdadu mendesak
Melengserkan penguasa
Anarkis tak terbendung
Sang pengaman kelabakan
Membedil sampai menutup mata

Rakyat kembali geram
Membakar swalayan kota
Akan luapan kecewa
Keadaan kota yang mencekam
Menyedihkan ibu pertiwi

Sang penguasa panik
Menyerahakan kekuasaan
Suasana terbalik
Tetapi menciptakan luka
Yang tak terhapuskan



LENTERA PENDIDIKAN

Dalam gelap gulita
Menyimpan secerca cahaya
Di sudut kebodohan
Bersinar sang lentera

Guruku tersayang
Berpacu untuk negeri
Bukan untuk uang
Tetapi untuk mengabdi

Tanpa mengena lwaktu
Mendidik tunas bangsa
Motivasi kian berarti
‘Tuk cita-cita nan abadi
Selalu memberi asa
Tak mengenal putus asa

Terlukis raut luar biasa
Tanda semangat yang membara
Tak terbalas dengan jasa
Pasti terbalas oleh Mahakuasa

Tiada dia
Maka ilmu kan sengsara
Tiada dia
Manusia tak beradab

Sungguh istimewa
Sang lentera pendidikan


BETA ANAK INDONESIA 

Nama saya Beta
Orang jakarta memanggilnya
Beta pindah dari jayapura
Menuju jakarta sebab ikut sang bapak

Hutan di sana
Berbeda di jakarta
Beton menjulang mencakar angkasa
Panas terik mentari
Menambah kehitaman raga

\Puluhan orang menatapku
Seakan asing denganku
Kenapa asing ?
Aku ini orang indonesia

Rambut keriting
Hidung yang besar
Mulut yang lebar
Dan kulit yang hitam

Seolah aku ini bukan
Warga negara indonesia
Mengapa demikian

Hinaan dan cacian di sekolah
Seakan-akan menjadi sarapan
Tak absen mereka menghujat
Mengapa beta aneh ?

Apa arti bhineka tunggal ika ?
Berbeda-beda tetapi tetap satu
Mana buktinya ?

Beta inginkan hanya satu
Yaitu dihargai


PERJUANGAN PENDIDIKAN

Shubuh datang, daku bangkit dari ranjang
Bergegas menuju istana Rabb, walaupun kantuk menggeliat
Tak pantang ku teriak, “Masih gelap, ayo tidur lagi”!
Usai sembahyang, kembali ke Istana kecilku
Ku culucuti pakaian, ku siramkan air pada raga ini

Guyuran demi guyuran menciptakan kesegaran
Sungguh nikmat luar biasa dari Tuhan
Ku pakai seragam bendera  kebanggaan negara
Merah putih nan perkasa

Berkumpul dengan sahabat untuk menimba ilmu
Sebelum fajar menyingsing
Kami pergi ke sekolah

Menempuh perjalanan lima kilometer
Menembus hutan belantara
Melewati sungai tanpa pakaian
Maklum, tak ada jembatan
Arus sungai yang kuat
Lebih kuat cita-cita kami

Sekolah terlihat dimata
Kami berlari, agar tak terlambat
Akhirnya perjuangan tak sia-s
Rintangan dan hambatan ke sekolah
Terbiasa kami jalani
Walaupun tak mengeluh, kami ingin
Mudah ke sekolah
Karena kami tunas bangsa ini

Ya Rabb, kuatkanlah tekad kami
Ya Rabb, sadarkanlah pemimpim kami
Ya Rabb, majukanlah pendidikan Negeri kami
Supaya kelak, kepahitan ini
Tak terulang kembali


AKU INGIN SEKOLAH

Satu demi satu
Bus kutumpangi
Memainkan ukulele
Untuk menghibur penumpang

Lagu favoritku
Anak jalanan dari Tegar
Pengamen yang kondang saat ini
Berharap seperti beliau
Menjadi bintang adalah anganku

Paruh hari menjelang
Rehat sejenang mengisi perut kosong
Terlihat anak-anak sebaya
Menggendong tas dan berseragam

Ingin seperti mereka
Menimba ilmu untuk masa depan
Iri memang rasanya
Tapi apa daya
Mimpi bagiku untuk sekolah

Jangakan untuk sekolah
Untuk makan saja
Susanya minta ampun
Pernah meminta kepada ibu
Namun beliak tak miliki uang
Memang sekolah gratis
Tapi tidak untuk perlengkapan sekolah

Aku sadar harus bekerja
Untuk menyambung hidup keluarga
Tak apa tubuh raga kecil ini
Bekerja membanting tulang
Asalkan kami dapat makan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar